Luciatriedyana’s Weblog











FHM Indonesia

(For Him Magazine)

What Is Media Violence???

Karen Boyle, memandang bahwa media massa dapat mempengaruhi perilaku konsumersnya. Efek atau dampak negative dari media adalah dapat mempengaruhi atau memprovokasi perilaku konsumersnya menjadi agresive, pembangkang, dan tidak bermoral dan akhirnya melakukan tindakan criminal. David Trend, menggariskan bahwa tidak mutlak menjadikan orang berperilaku agresive dan melakukan tindakan kriminal, namun media violence dapat menjadi berbahaya. Media dapat memberikan identitas dan mengubah keyakinan dan sikap suatu masyarakat secara perlahan-lahan dan kontinyu.

Violence of Gender

violence of gender is defined as any act of violence against women for the fact of being them, that results in physical, sexual, psychological or economical harm, including coercion or arbitrary deprivation of liberty, in public or private life” -segala hal yang melecehkan, merendahkan, serta bersifat negative bagi wanita dapat digolongkan dalam kekerasan terhadap gender. Wanita sering kali mendapat diskriminasi dan pelecehan dalam media. Bicara soal kekerasan terhadap gender-wanita, lebih mengarah pada perjuangan kaum feminist yang menentang segala bentuk diskriminasi terhadap wanita dan menuntut adanya kesetaraan.

Kontribusi Media terhadap Kekerasan

Media massa saat ini merupakan media dalam menyampaikan informasi perubahan kepada masyarakat sehingga bisa dikatakan sebagai alat konstruksi sosial yang paling ampuh. Permasalahannya, pesan yang dibawa media massa tidak saja bersifat positif namun juga bersifat negatif, bahkan kadang-kadang pesan positif dimodifikasi hingga menjadi negatif. Dalam kaitannya dengan permasalahan gender, media massa sebenarnya merupakan alat strategis untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap tindak kekerasan pada perempuan karena memiliki hegemoni untuk membangun opini publik. Namun, di sisi lain, media massa juga ternyata menjadi alat strategis untuk mengembangkan bahkan melestarikan tindak kekerasan pada perempuan. Berkaitan dengan kemampuan media yang dapat menciptakan realitas social.

Violence of Gender in FHM- Sebuah Diskriminasi terhadap Wanita

Jelas sekali bahwa dalam majalah FHm telah ada kekerasan terhadap gender-wanita. Dalam setiap halamannya, terdapat model-model wanita yang diphoto seksi dan sedikit vulgar. Jelas, bahwa majalah ini, sebagai majalah pria, berusaha menggunakan tubuh wanita untuk menarik para pria-pembacanya. Jelas wanita dijadikan sebagai objek hiburan, kasarnya tubuh wanita menjadi ’barang dagangan’. Wanita seksi dijadikan penggoda, bagian-bagian tubuhnya di closed up, seperti dada, paha, perut, serta pose-pose yang terlihat menggoda. Tidak hanya photo-photo wanita seksi, tetapi artikel-artikel hasil wawancara dengan model-model wanita yang diphoto yang ditampilkan dibelakang atau disamping photo pun terkesan melecehkan. Isinya seputar, bagian tubuh yang mana yang paling disukai atau sensitive, bagaimana ’bermanja-manja’ terhadap pacar, pengalaman-pengalaman seksual yang pernah dialami, yang intinya memandang wanita sebagai ’alat pemuas’ dan harus ’dinikmati’. Namun celakanya, seperti yang diungkapkan oleh David Trend, bahwa wanita enjoy-menikmati diperlakukan demikian. Wanita senang berpose untuk pria, wanita senang dibilang seksi dan menggoda. Model-model wanitanya mau dan enjoy diphoto hanya menggunakan bikini dan celana dalam. Secara konkret, kaum wanita dalam majalah ini, secara sadar atau tidak sadar, menempatkan posisi diri mereka sebagai ’objek seksual dan objek hiburan’ bagi pria. Mereka sendiri yang menempatkan diri mereka untuk dilecehkan pria, dan menikmatinya- moreover, many women viewers enjoy violent fare-even works that portray violence against woman.

Pornografi

Pornography is violence against women. Karen Boyle defined pornography as the sexually explicit subordination of women that dehumanizes objectifies and degrades women and often sexualizes and celebrates their abuse– Pelecehan seksual terhadap wanita dengan menjadikan wanita sebagai objek seksual.

Pornografi dalam Majalah FHM

Apakah photo-photo seksi model-model wanita dalam majalah FHM lebih mengarah pada seni? Apakah majalah ini sudah melakukan pornografi??? Yang jelas, setelah disahkannya UU Pornografi, segala materi di media yang membangkitkan hasrat seksual, dan mengeksploitasi seks dan menampilkan foto perempuan dalam pose yang mengeksploitasi seks termasuk dalam pornografi. Namun, para penentang UU ini menggunakan kebebasan berkreasi dan berseni sebagai alasan mereka. Lalu, apakah tubuh wanita dalam majalah ini adalah seni yang indah dan harus dinikmati??? Inilah yang ditentang oleh kaum feminist yang anti pornografi. Pornografi tak lain tak bukan hanya melecehkan wanita dan mendiskriminankan wanita hanya sebagai objek seksual dan korban pemuas hasrat kaum hawa. Pornografi, menurut kau feminist, erat sekali hubungannya dengan kekerasan terhadap wanita-gender. Namun, yang jelas, pornografi secara kontinyu, seperti yang diungkapkan David Trend, dapat memicu terjadinya kasus kriminalitas seperti perkosaan.

Daftar Pustaka

Trend, David. 2007. The Myth of Media Violence. A Critical introduction.

Boyle, Karen. 2005. Media and Violence.



EXTRAMEDIA LEVEL

PENGARUH TERHADAP CONTENT MEDIA

Hubungan dengan Jurnalis-Source

Isi dari media (media content) merupakan hasil dari reportase dari jurnalis, dengan melakukan wawancara dari beberapa sumber. Jurnalis mencari dan menentukan berbagai sumber informasi untuk mendapatkan berita tentang suatu event/issue. Jurnalis biasanya menyeragamkan keinginan dan karakter audiencenya. Seolah-olah semua audiencenya tertarik dengan informasi yang akan dia tulis. Jurnalis membuat issue yang ia tulis seolah-olah memang issue penting. Contohnya, berita-berita yang ditayangkan oleh jurnalis-jurnalis gossip atau infotaiment, seolah-olah semua masyarakat ’gila’ artis dan merasa berita seputar artis itu penting. Apakah semua orang peduli kalau Julia Perez bermasalah dengan suaminya seperti yang diberitakan berbagai infotaiment saat ini??? Namun, berkaitan dengan suber informasi, sumber yang berbeda dapat menghasilkan berita yang berbeda pula. Contohnya, dulu ketika terjadi kasus pesawat ”ADAM AIR” yang menghilang, Stasiun TV yang mewawancarai PR ’ADAM AIR’ menampilakan berita yang berupa sebab terjadinya peristiwa dan kondisi ADAM AIR pasca peristiwa, apa yang dilakukan ADAM AIR, kompensasi dari ADAM AIR,dll. Sementara Majalah Cosmo girl, yang terbit sekitar sebulan setelah peristiwa tersebut mencoba mewawancarai teman dari korban pesawat yang ikut menghilang, sehingga isi beritanya pun seputar kisah kehidupan yang pernah terjadi antara si sumber dengan si korban.

Interest Groups

Interest groups ini adalah kelompok-kelompok kepentingan dalam masyarakat yang berusaha untuk mengkomunikasikan pandangan atau kepentingan mereka atas satu atau lebih issue kepada masyarakat, serta berusaha mempengaruhi legislative untuk membentuk atau merubah opini dan perilaku masyarakat. Contohnya, ICW (Indonesia Corruption Watch) yang berulang kali, melalui media, berkampanye seputar antikorupsi dan mengajukan beberapa tuntutan terhadap kasus korupsi bahkan ikut mengajukan hukuman bagi para koruptor. Kemudian, masih ingatkah kasus FPI dan kelompok kepentingan lainnya yang terlibat, berusaha mempenagruhi kebijakan media (khususnya TV) dalam menayangkan program yang didalamnya ada peran banci.

Public Relations

Di sini PR merupakan ’alat’ perhatian public. Biasanya interest groups punya dan menggunakan PR dalam berkomunikasi dengan media. Ketika terjadi issue atau event tertentu berkenaan dengan interest groups atau perusahaan-campaign, yang dituju oleh journalist-jurnalist media pertama kali biasanya adalah PR perusahaan tersebut. Contohnya dalam kasus ADAM AIR sebelumnya, biasanya jurnalist mendapat berita dari PR prusahaan ADAM AIR. Karena PR lah yang berkewajiban menyelesaikan masalah berkenaan dengan citra perusahan berkaitan dengan issue yang sedang terjadi. PR erat sekali hubungannya dengan media. PR menggunakan media untuk megangkat citra perusahaannya terkait dengan issue atau event yang sedang berlangsung.

Advertisers and Audiences

Untuk kebanyakan komersial media, audiences sangat penting karena perhatian mereka dapat menarik para pengiklan yang dapat memberikan mereka (media) keuntungan atau provid. Setiap media punya marketplace-nya masing-masing. Mereka punya target audiences sendiri. Misalnya majalah Kawanku, target audiencesnya adalah remaja wanita. Sehingga iklan yang sering diterima contohnya iklan pembersih muka, hand-body-lotion, pembalut, aksesories perhiasaan, baju-baju dan lain sebagainya yang dibutuhkan oleh remaja wanita dan diharapkan iklan tersebut laku dan tepat sasaran. Nah, berhubung para pengiklan atau agency periklanan itu mempunyai marketplace dan dalam memilih media tempat beriklan disesuaikan dengan marketplace dari audiences itu sendiri. Sehingga media harus punya dan konsisten terhadap marketplace dan target audiencesnya. Marketplace media mempengaruhi isi-content, karena isinya tentu harus disesuaikan dengan target audiences dalam marketplace media tersebut. Cotohnya dalam majalah kawanku tadi, isi dari liputan di media berkisar masalah remaja wanita termasuk cerpen-cerpennya.

Goverment Controls

Pengaruh extramedia yang lainnya adalah dari pemerintah. Semua pemerintah negara mengontorl media massa yang beredar, misalnya dengan beberapa kebijakan. Ada yang pengaruh atau kontro dari pemerintah terlalu kuat dan ada yang pemerintahnya hanya memberlakukan sedikit tekanan terhadap media yang beredar. Di Indonesia sendiri, saat ini, pemerintah mengontrol media yang beredar dengan berbagai kebijakan diantaranya mengeluarkan UU yang mengatur penyiaran media dan kode etik jurnalisme dalam media. Kebijakan yang baru-baru ini disahkan adalah UU pornografi, yang oleh pemerintah, sebagai ketentuan yang membatasi dampak negative media khusunya terhadap anak-anak. Selain itu, media sering kali dimanfaatkan oleh partai politik untuk berkampanye. Dalam iklan kampanye partai gerindra yang ditayangkan di berbagai stasiun TV, ada target audiences atau orang-orang yang diharapkan mendukung partainya, yaitu kelompok tani, kelompok buruh, dan rakyat kecil.

Technology

Era modernisasi menutut media ikut mengadopsi teknologi dalam memenangkan persaingan. Revolusi teknologi memaksa media untuk ikut melakukan revolusi media massa. Surat kabar dan majalah bekembang dengan design grafis. Layout, komposisi warna, cover, jenis kertas, dll mulai dipertimbangkan untuk menarik minat audiences. Apalagi dengan adanya teknologi, media cetak dalam distribusi atau penyebarannya juga lebih mudah, efisien, cepat, dan praktis. Pengiriman isi media dari jarak jauh tidak lagi brmasalah lewat fax, e-mail, dll. Berkembangnya gobal village lewat internet membuat sejumlah media membuka situs online demi mempertahankan kelangsungan hidupnya-usahanya. Contohnya, kompas.com, thejakartapost.com, dll. Isi media tidak lagi hanya berupa informasi murni, namun, dalam menampilakan informasi itu ada tekhnologi yang diterapkan agar membuat audiences tertarik dan mau membacanya, misalnya dengan animasi grafis, disain sampul yang menarik, kertas colorfull,



{May 25, 2009}   Regulasi Media Massa

Regulasi Media Massa

Kebebasan pers itu penting. Hanya dengan kebebasan berbagai komunikasi dapat disampaikan kepada masyarakat. Media massa yang tidak punya kebebasan dalam menyiarkan beritanya, ibarat sudah kehilangan sifat dasarnya. Bagaimana mungkin ia dapat memberitakan ’kebobrokan’ di kalangan masyarakat tanpa ada kebebasan yang dipunyai pers untuk mengungkap dan menyiarkannya? Oleh karena itu, tidak boleh ada pengekangan apa pun terhadap pers. Pemerintah tidak berhak ikut campur dalam media massa, apapun alasannya. Alasan pemerintah jadi bisa ikut membina pers, atau menyelesaikan sengketa pers, tetapi cepat atau lambat, jika dibiarkan berlarut-larut bukan mustahil pers akan kehilangan kebebasannya. Berbagai proses penghambatan pers dalam usaha menyiarkan berita sudah selayaknya dihilangkan. Jadi kebebasan pers adalah penting dalam kehidupan pers. Tetap, kebebasan pers akan lebih bermakna jika disertai tanggung jawab. Dengan kata lain, pers tidak sebebas-bebasnya, tetapi kebebasan itu harus bisa dipertanggungjawabkan, yang lebih dikenal dengan istilah kebebasan yang bertanggung jawab. Media harus berhati-hati untuk menyiarkan dan menyebarkan informasi. Media tidak bisa seenaknya memberikan informasi atau mengarang cerita agar medianya laris. Jurnalis adalah profesi yang dituntut bertanggung jawab terhadap apa yang dikemukakannya. Jika pemberitaannya memiliki konsekuesi merugukan masyarakat, maka pihak media harus bertanggung jawab. Jika sudah merugikan secara perdata/pidana, maka media harus siap jika diprotes dipengadilan. (Ardianto,dkk, 2007: 202-204)

Jadi, untuk mengatur para jurnalis untuk bertanggung jawab maka pemerintah melakukan kontrol kebebasan melalui UU. Regulasi dilakukan agar para jurnalis bertanggung jawab terhadap apa yang ia beritakan dan hak masyarakat sebagai sumber ataupun objek penerima berita dilindungi.

Cinema Policy in Indonesia

Karena adanya globalisasi, di mana hubungan dengan Negara-negara barat khususnya Amerika mulai dibuka sejak jamannya Orba, berbagai film-film luar negeri seperti dari Amerika serta china mulai mendominasi pasar indonesia. Regulasi mulai dilakukan untuk melindungi budaya local indonesia. Di sini regulasi diberlakukan sebagai filter terhadap film asing. Contohnya film dari Amerika, sering kali terdapat budaya nasionalis amerika atau propaganda dari pemerintah amerika, yang harus diawasi atau disensor untuk melindungi nasionalis bangsa. Pada maa orba, regulasi dari pemerintah bersifat memaksa. Media, secara keseluruhan, berusaha dikuasai pemerintah untuk kepentingan pemerintah. Film Indonesia berperan sebagai media propaganda pemerintah. Film-film indonesia, dalam pasarnya, lebih bersifat mengejar keuntungan ekonomi. Sementara content atau isi dari film kurang diperhatikan, misalnya dampak terhadap degradasi budaya indonesia. Oleh karena itu, regulasi perfilman diperlukan untk melindungi content-content dari film-film yang diproduksi dan beredar dalam masyarakat. Sebelum beredar, sebelumnya, film harus lulus dari badan  yang bertugas meyensor film-LSF. Sensor film dilakukan melindungi masyarakat dari bahaya film yang tidak sesuai dengan politik dan norma masyarakat indonesia. (Moran, 1996:172-184)



RESEARCH PROPOSAL

INTERPERSONAL COMMUNICATION BETWEEN LECTURER AND STUDENTS TO MOTIVATE STUDENTS IN CLASS

Analysis with Social Learning Theory

Finished by:

Lucia Tri Ediana P.J.     (03568)

FACULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITIC SCIENCE

ATMAJAYA YOGYAKARTA UNIVERSITY

2009

INTERPERSONAL COMMUNICATION BETWEEN LECTURER AND

STUDENTS TO MOTIVATE STUDENTS IN CLASS

Analysis with Social Learning Theory

Introduction

Have a positive relation between teacher and students may motivate students into success stories in class (Elias 2006; Aydogan 2008; Corrigan and Chapman 2008).

Many researches prove the importance of interpersonal communication between teacher and students which can helps students become success. Interpersonal communication is face to face communications which have high affectivity. Have a good interpersonal communication make good deal in relation. A positive relation between teacher and students in interpersonal communication result ‘trusting’ in that relation. Students trust in teacher is important. There are correlation between trust in teacher and motivation to students. (West and Turner 2007; Corrigan and Chapman 2008).

“Trust provides a sensation of collegiality that rebels from the bland acceptance of the ideas and values of the ‘public’ and challenges each student and teacher to formulate, discover and test, through dialogue, their personally transforming relationships to knowledge, self and the other….. The development of interpersonal trust is believed to be an initial step to forming healthy human relationships” (Corrigan and Chapman, 2008).

The challenge for teacher in education is to motivate the unmotivated. Surely even the “Success Stories” of the education system can all recount subjects where they at least initially lacked motivation at school (Keach, 2009).

Building a positive relationship between the teacher and students helps students become more successful and have more motivation. A teacher’s relationships with students both within and outside the classroom affect their attitudes towards and motivation for that class. Teacher’s attention can motivate student to get success in their studying (Aydogan, 2008). Teachers should motivate students to get their students success. Growing emotional-motivational reflects the importance of various interpersonal skills as essential for success in school and life. Emotion may drive attention. Emotional learning broadens the framework of education and addresses the complex interplay of emotions and cognition in learning, remembering, and understanding. Learning is a process closely linked to students’ social and emotional needs, as well as the context of their learning environment (Elias, 2006).

Albert Bandura, explained social learning theory, there is continuous interaction between a person’s internal state and the social reinforcements that follow from the person’s behavior with others. Thus we learn how to behave from our social interactions. In this way, there is role playing and modeling which can persuade person to motivate his/her behavior. Human may have predicted will act out their role by learning their model, by imitating (Larson, 1986).

Based on some researches above we can conclude that interpersonal communication between lecturer and students have an influence to students’ motivation. Though these findings are suggest or instructive about the effects of teachers’ communication on motivation, needs to consider additional variables. Research variable focused most-only in teacher. So, this research will design to complete the previous researches and use not only teacher’s role but also students’ perspective when they playing their role. This research focus on analyzing students’ motivation use social learning theory, which explained by Albert Bandura, to analyze the research problem and adds role playing and modeling, as additional variables, which can be analyze with social learning theory.

Research Questions

  1. How a lecturer being a model which can motivate his /her students into motivation? In other ways, how students’ act out their role (role playing) with motivation by a lecturer?
  2. What are some of the factors affecting students into motivation in relation to a lecturer as their model?
  3. How does motivation persuade or impact students’ success in their studies?

Literature Review

Favoritism in the classroom is one of the most important reasons affecting instruction and thus student success (Aydogan, 2008). Favoritism is an act of teacher’s attention. Teacher’s attention can motivate student to get success in their studying. Factors leading to favoritism among teachers may be listed as follows: student success, student’s social or economic status, gender, physical appearance, familiarity between student and teacher or student’s family and teacher (blood relations or friendship), and parallelism between the ideology (political or religious) of students or their family and the teacher. Building a positive relationship between the teacher and students helps students become more successful and have more motivation. A teacher’s relationships with students both within and outside the classroom affect their attitudes towards and motivation for that class. However, teachers are sometimes affected by student success or failure. More precisely, teachers may criticize less successful students more harshly and have less contact with them, thus breaking their motivation to learn. On the other hand, they may perceive certain other students as more successful and thus develop a more positive attitude towards them, which ultimately supports them in gaining more success (Aydogan, 2008).

Trust is an integral component for culturally sensitive pedagogy. This study sought to support that gains in teaching effectiveness can be obtained by sharing responsibilities with students, and working together to build trustful bonds. The participants for this study were 200 college students enrolled in an introductory communication studies course at a large mid-Atlantic university. Participants completed a multiple scale survey to help clarify the relationship between one’s level (during high school) of trust in teachers, learner empowerment, and motivation to learn. Trust is a “process of holding certain relevant, favorable perceptions of another person”. Trust provides a sensation of collegiality that rebels from the bland acceptance of the ideas and values of the ‘public’ and challenges each student and teacher to formulate, discover and test, through dialogue, their personally transforming relationships to knowledge, self and the other. The results offered rather compelling support that trust most likely was associated with more motivated and empowered students. The fact that all of these students made it to college could suggest that trust in teachers might have helped create the empowerment and motivation that propelled them to higher education. The results would suggest that the gains to motivating and empowering students seem well worth the risks experienced when we open up and self disclose to our students (Corrigan and Chapman, 2008).

A research from Elias also prove: “making good interpersonal communication between teacher and students is important”. A growing body of research and practice in the area of social and emotional learning (SEL) reflects the importance of various interpersonal skills as essential for success in school and life. These include communication skills, proactive skills, productivity, collaborative problem solving Collaborative Problem Solving (CPS) is a behavior management approach developed for children with social, emotional, and behavioral challenges. The CPS approach views behavioral challenges as a form of learning disability and seeks to correct behavior through cognitive intervention. School personnel are becoming increasingly aware of the benefits of SEL approaches for their schools. When translated into the classroom, social and emotional learning broadens the framework of education and addresses the complex interplay of emotions and cognition in learning, remembering, and understanding. Learning is a process closely linked to students’ social and emotional needs, as well as the context of their learning environment. Research has demonstrated that emotions drive attention, learning, and memory. Students distracted or overcome by emotions that interfere with learning may find it difficult to accomplish simple academic tasks such as following directions (Elias, 2006).

Though these findings are suggest or instructive about the effects of teachers’ communication on motivation, needs to consider additional variables. Research variable focused most-only in teacher. So, this research will design to complete the previous researches and use not only teacher’s role but also students’ perspective when they playing their role. This research use social learning theory which explained by Albert Bandura to analyze the research problem and adds role playing and modeling, as additional variables, which can be analyze with social learning theory.

Theoretical Frameworks

  1. Interpersonal Communication

Communication is a social process in which individuals employ symbols to establish and interpret meaning in their environment. Interpersonal communication refers to face to face communications which have high affectivity. Investigating how relationships begin, the maintenance of relationships, and the dissolution of relationships (West and Turner, 2007).

One way of defining interpersonal communication is to compare it to other forms of communication. In so doing, we would examine how many people are involved, how physically close they are to one another, how many sensory channels are used, and the feedback provided. Interpersonal communication differs from other forms of communication in that there are few participants involved, the persons who in interaction are in close physical proximity to each other, there are many sensory channels used, and feedback is immediate. An important point to note about the contextual definition is that it does not take into account the relationship between the persons who in interaction. From this view, interpersonal communication is defined as communication that occurs between people who have known each other for some time. Importantly, these people view each other as unique individuals, not as people who are simply acting out social situations. Interpersonal communication is so important because interpersonal communication can gain knowledge about another individual and to establish an identity. The roles playing in human relationships help human establish identity. So too does the face, the public self-image from a person present to others. Both roles and face are constructed based on how a person interacts with others. Finally, interpersonal communication needed to express and receive interpersonal needs (Hybels and Weaver, 2004).

  1. Social Learning Theory

Albert Bandura, explained social learning theory, there is continuous interaction between a person’s internal state and the social reinforcements that follow from the person’s behavior with others. Thus we learn how to behave from our social interactions. In this way, there is role playing and modeling which can persuade person to motivate his/her behavior. Students may have predicted will act out their role by learning their teacher, which position as student’s model, by imitating. Bandura’s major premise is that human can learn by observing others. He considers vicarious experience to be the typical way that human beings change. He uses the term observation of another’s response and modeling, and he claims that modeling can have as much impact as direct experience. Social learning theory is a general theory of human behavior.  Bandura warned that children and adults acquire attitudes, emotional responses, and new styles of conduct through modeling. Human learning by imitating his/her model (Larson, 1986).

  • General principles of social learning theory follow:

1. People can learn by observing the behavior is of others and the outcomes of those behaviors.

2. Learning can occur without a change in behavior. Behaviorists say that learning has to be represented by a permanent change in behavior; in contrast social learning theorists say that because people can learn through observation alone, their learning may not necessarily be shown in their performance. Learning may or may not result in a behavior change.

3. Cognition plays a role in learning. Social learning theory has become increasingly cognitive in its interpretation of human learning. Awareness and expectations of future reinforcements or punishments can have a major effect on the behaviors that people exhibit.

4. Social learning theory can be considered a bridge or a transition between behaviorist learning theories and cognitive learning theories (Ormrod, 1999).

  • How the environment reinforces and punishes modeling:

People are often reinforced for modeling the behavior of others. Bandura suggested that the environment also reinforces modeling. This is in several possible ways:

1. The observer is reinforced by the model.

2. The observer is reinforced by a third person. The observer might be modeling the actions of someone else.

3. The imitated behavior itself leads to reinforcing consequences. Many behaviors that people learn from others produce satisfying or reinforcing results.

4. Consequences of the model’s behavior affect the observer’s behavior vicariously. This is known as vicarious reinforcement. This is where in the model is reinforced for a response and then the observer shows an increase in that same response. Bandura illustrated this by having students watch a film of a model hitting an inflated clown doll. One group of children saw the model being praised for such action. Without being reinforced, the group of children began to also hit the doll (Ormrod, 1999).

  • Contemporary social learning perspective of reinforcement and punishment:

1. Contemporary theory proposes that both reinforcement and punishment have indirect effects on learning. They are not the sole or main cause.

2. Reinforcement and punishment influence the extent to which an individual exhibits a behavior that has been learned.

3. The expectation of reinforcement influences cognitive processes that promote learning. Therefore attention pays a critical role in learning. And attention is influenced by the expectation of reinforcement. An example would be where the teacher tells a group of students that what they will study next is not on the test. Students will not pay attention, because they do not expect to know the information for a test (Ormrod, 1999).

  • Cognitive factors in social learning:

Social learning theory has cognitive factors as well as behaviorist factors (actually operant factors).

1. Learning without performance: Bandura makes a distinction between learning through observation and the actual imitation of what has been learned.

2. Cognitive processing during learning: Social learning theorists contend that attention is a critical factor in learning.

3. Expectations: As a result of being reinforced, people form expectations about the consequences that future behaviors are likely to bring. They expect certain behaviors to bring reinforcements and others to bring punishment. The learner needs to be aware however, of the response reinforcements and response punishment. Reinforcement increases a response only when the learner is aware of that connection.

4. Reciprocal causation: Bandura proposed that behavior can influence both the environment and the person. In fact each of these three variables, the person, the behavior, and the environment can have an influence on each other.

5. Modeling: There are different types of models. There is the live model, and actual person demonstrating the behavior. There can also be a symbolic model, which can be a person or action portrayed in some other medium, such as television, videotape, and computer programs (Ormrod, 1999).

  • Behaviors that can be learned through modeling:

Many behaviors can be learned, at least partly, through modeling (Ormrod, 1999).

  • Conditions necessary for effective modeling to occur:

Bandura mentions four conditions that are necessary before an individual can successfully model the behavior of someone else:

1. Attention: the person must first pay attention to the model.

2. Retention: the observer must be able to remember the behavior that has been observed. One way of increasing this is using the technique of rehearsal.

3. Motor reproduction: the third condition is the ability to replicate the behavior that the model has just demonstrated. This means that the observer has to be able to replicate the action, which could be a problem with a learner who is not ready developmentally to replicate the action.

4. Motivation: the final necessary ingredient for modeling to occur is motivation; learners must want to demonstrate what they have learned. Remember that since these four conditions vary among individuals, different people will reproduce the same behavior differently (Ormrod, 1999).

Research Methodology

  1. Location

This research will have located in Atma Jaya Yogyakarta University (UAJY), more specific, this research only looks closely students in faculty of social and politic science (FISIP). This location selected because of attainable. Researcher is a student in FISIP, UAJY. So, researcher can reach this space. Object in this research also closed to students in first year because researcher still in first year degree. It’s about feasibility.

  1. Type of Social Research

This research refers to qualitative type. Qualitative is one of social methodologies, this research method is set exploration can lead not only to formulating hypotheses and theories, but also modifying and testing hypotheses and theories. Exploration helps to analyze research object. Method in qualitative research is design to bring the researcher closer to social reality and social interaction (Sarantakos, 1993; Dorsten and Hotchkiss, 2004). This research will analyze the social interaction’s problem use social learning theory, theory which exists in interpersonal behaviors. Researcher want analyze about role playing and modeling between lecturer and students in class. The interaction, into interpersonal communication, between lecturer and students will analyze to testing the hypothesis. This research has a hypothesis that interpersonal communication between lecturer and students can motivate students in class, liked have explained in introduction. Have a positive relation between teacher and students may motivate students into success stories in class (Elias 2006; Avdogan 2008; Corrigan and Chapman 2008). It’s about social research which the object is human relation. There is no absolute statistic data can describe, predict and judge it as certainty and absolutely. In different place and condition it may result different data. This research will have any subjectivity from researcher because researcher has an interest to this problem and the researcher’s position is in line (researcher is a student in FISIP UAJY). This research is design to analyze and prove or testing the hypothesis. So, researcher concludes this research into qualitative type.

  1. Methods of Data Collection

To collect the data in this research, researcher will use method in participant observation. Researcher as a student in FISIP UAJY actually becomes a member of the objects to study. To collect the qualitative data researcher observe from inside the group and the researcher identity is a student. As a student researcher can study and observe what happened in class from inside and as experienced by the members of the group to dealing and exploring the research problems. Research will locate in FISIP UAJY. Object in this research also closed to students in first year because researcher still in first year degree. So, researcher will to observe role playing and modeling between lecturer and students in every class which researcher joined into. The researcher-observed relationship is close, based on understanding and mutual trust, and also directed towards cooperation for the purpose of answering the research questions. The researcher is expected to respect the observed, to be understanding, and tolerant and also familiar with the condition and process of teaching-learning in class. Researcher as observer will recording and noting the data or information during the process of teaching-learning occurs in class. Researcher will observe the relation and interaction patterns when lecturer and students have in communications. Observation design to collect the data to answer the research questions, how students act their role, did a lecturer be a motivating model to the students in class, what are the factors affect students into motivation in relationship with their lecturer in class, and what is the impact of motivation to students.

  1. Analysis Data

The analysis of data can be through scaling interpretation for the observation recording that can be in support to any descriptive type of analysis basing from social learning theory. In social learning theory explain about role playing and modeling in interpersonal communication that can persuade in behaviors changing. For changing their attitude or behaviors need any motivational. In this way, there is role playing and modeling which can persuade person to motivate his/her behavior. Human may have predicted will act out their role by learning their model, by imitating (Larson, 1986). So, by the supporting data from observation, this research will analyze use social learning theory to testing the hypothesis: lecturer as a model to the students may motivate students in class in success stories in positive interpersonal relation. Analysis of the data is interwoven and takes place concurrently.

  1. Resources

The resources deemed for the realization of the study can come from related books and certain publications mostly underlying to the support resource materials ideally as basis for the literature studies of the study. The knowledge and information about the previous researches to be integrated and evaluated for validity and reliability can be found from The Free Library online.

  1. Access to Study Population

For such access to study population there can be distribution of permission proposal or letter, that should be given to the supervisor heads of UAJY and ask their permission to use FISIP UAJY as the venue for giving out of the participant observation to interpersonal communication between lecturer and students in class. Thus, informing FISIP UAJY that such suitable information about FISIP UAJY will be use as information reference for whatever case data needed for the overall aspect of the research.

References

Larson, Charles U. 1986. Persuasion Reception and Responsibility.

California: Wardsworth Publishing Company.

West, Richard dan Lynn H. Turner. 2007. Introducing Communication theory.

Analysis and Application, Third edition. New York: McGraw-Hill

Sarantakos, Sotirios. 1993. Social Research. Australia: MacMillan.

Hybels, Saundra and Richard L. Weaver II. 2004. Communicating Effectively.

New York: McGraw-Hill

Dorsten, Linda E. and Lawrence Hotchkiss. 2004. Research Methods and Society.

Foundations of Social Inquiry. USA: Pearson Prentice Hall.

Elias, Maurice J. 2006. Building Learning Communities through Social and

Emotional Learning: Navigating. The Rough Seas of Implementation.

Publication: Professional School Counseling.

(http://www.thefreelibrary.com/Building+learning+communities+through+social+and+emotional+learning%3a…-a0153359898)

Corrigan, Michael W. and Paul E. Chapman. 2008. TRUST IN TEACHERS: A MOTIVATING ELEMENT TO LEARNING (http://radicalpedagogy.icaap.org/content/issue9_2/Corrigan_Chapman.html )

Aydogan, Ismail. 2008. Favoritism in the classroom: a study on Turkish schools.

Publication: Journal of Instructional Psychology

(http://www.thefreelibrary.com/Favoritism+in+the+classroom%3a+a+study+on+Turkish+schools.-a0181365763 )

Abbott, Lynda. Social Learning Theory.

From notes on Ormond’s Human Learning

[Ref:  Ormrod, J.E. (1999). Human learning (3rd Ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice-Hall.]

(http://teachnet.edb.utexas.edu/~lynda_abbott/Social.html)



HAMBATAN-HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

  1. ETNOSENTRISME

Etnosentrisme didefinisikan sebagai kepercayaan pada superioritas inheren kelompok atau budayanya sendiri; etnosentrisme mungkin disertai rasa jijik pada orang-orang lain yang tidak sekelompok; etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang lain yang tidak sekelompok dan dianggap asing; etnosentrisme memandang dan mengukur budaya-budaya asing dengan budayanya sendiri. (Mulyana:2000;70)

Jelas sekali bahwa dengan kita bersikap etnosentrisme kita tidak dapat memandang perbedaan budaya itu sebagai keunikan dari masing-masing budaya yang patut kita hargai. Dengan memandang budaya kita sendiri lebih unggul dan budaya lainnya yang asing sebagai budaya ’yang salah’, maka komunikasi lintas budaya yang efektif hanyalah angan-angan karena kita akan cenderung lebih mebatasi komunikasi yang kita lakukan dan sebisa mungkin tidak terlibat dengan budaya asing yang berbeda atau bertentangan dengan budaya kita. Masing-masing budaya akan saling merendahkan yang lain dan membenarkan budaya diri sendiri, saling menolak, sehingga sangat potensial muncul konflik di antaranya. Contoh konflik yang sudah terjadi misalnya suku dayak dan suku madura yang sejak dulu terus terjadi. Kedua suku pedalaman itu masing-masing tidak mau saling menerima dan menghormati kebudayaan satu sama lain. Adanya anggapan bahwa budaya sendiri lah yang paling benar sementra yang lainnya salah dan tidak bermutu tidak hanya berwujud konfik namun sudah berbentuk pertikaian yang mengganas, keduanya sudah saling mmbunuh atar anggota budaya yang lain. Contoh lainnya, orang Indonesia cenderung menilai budaya barat sebagai budaya yang ’vulgar’ dan tidak tahu sopan santun. Budaya asli-budaya timur dinilai sebagai budaya yang paling unggul dan paling baik sehingga masyrakat kita cenderung membatasi pergaulan dengan orang barat. Orang takut jika terlalu banyak komunikasinya maka budaya asli akan tercemar—budaya barat sebagai polusi pencemar.

  1. STEREOTIPE

Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan (stereotyping), yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi orang-orang berdasarkan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, penstereotipan adalah proses menempatkan orang-orang ke dalam kategori-kategori yang mapan, atau penilaian mengenai orang-orang atau objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang sesuai, ketimbang berdasarkan karakteristik individual mereka. Banyak definisi stereotype yang dikemukakan oleh para ahli, kalau boleh disimpulkan, stereotip adalah kategorisasi atas suatu kelompok secara serampangan dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan individual. Kelimpik-kelompok ini mencakup : kelompok ras, kelompok etnik, kaum tua, berbagai pekerjaan profesi, atau orang dengan penampilan fisik tertentu. Stereotip tidak memandang individu-individu dalam kelompok tersebut sebagai orang atau individu yang unik.

Contoh stereotip :

Ø Laki-laki berpikir logis

Ø Wanita bersikap mental

Ø Orang berkaca mata minus jenius

Ø Orang batak kasar

Ø Orang padang pelit

Ø Orang jawa halus-pembawaan

Menurut Baron dan Paulus ada beberapa faktor yang menyebabkan adanya stereotip. Pertama, sebagai manusia kita cenderung membagi dunia ini ke dalam dua kategori : kita dan mereka. Karena kita kekurangan informasi mengenai mereka, kita cenderung menyamaratakan mereka semua, dan mengangap mereka sebagai homogen. Kedua, stereotip tampaknya bersumber dari kecenderungan kita untuk melakukan kerja kognitif sedikit mungkin dalam berpikir mengenai orang lain. Dengan kata lain, stereotip menyebabkan persepsi selektif tentang orang-orang dan segala sesuatu disekitar kita. Stereotip dapat membuat informasi yang kita terima tidak akurat. Pada umumnya, stereotip bersifat negative. Stereotip tidak berbahaya sejauh kita simpan di kepala kita, namun akan bahaya bila diaktifkan dalam hubungan manusia. Stereotip dapat menghambat atau mengganggu komunikasi itu sendiri. Contoh dalam konteks komunikasi lintas budaya misalnya, kita melakukan persepsi stereotip terhadap orang padang bahwa orang padang itu pelit. Lewat stereotip itu, kita memperlakukan semua orang padang sebagai orang yang pelit tanpa memandang pribadi atau keunikan masing-masing individu. Orang padang yang kita perlakukan sebagai orang yang pelit mungkin akan tersinggung dan memungkinkan munculnya konflik. Atau misal stereotip terhadap orang batak bahwa mereka itu kasar. Dengan adanya persepsi itu, kita yang tidak suka terhadap orang yang kasar selalu berusaha menghindari komunikasi dengan orang batak sehingga komunikasi dengan orang batak tidak dapat berlangsung lancar dan efektif. Stereotip terhadap orang afrika-negro yang negatif menyebabkan mereka terbiasa diperlakukan sebagai kriminal. Contohnya, di Amerika bila seseorang (kulit putih) kebetulan berada satu tempat/ruang dengan orang negro mereka akan , secara refleks, melindungi tas atau barang mereka, karena menggangap orang negro tersebut adalah seorang pencuri. Namun, belakangan, stereotip terhadap orang negro sudah mulai berkurang terleih sejak presiden amerika saat ini juga keturunan negro. Orang Indonesia sendiri di mata dunia juga sering distereotipkan sebagai orang-orang ’anarkis’ , ’bodoh’, konservatif-primitif, dll.

(Mulyana, 2008;237-243)

  1. PRASANGKA

Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotip. Prasangka adalah sikap yang tidak adil terhadap seseorang atau suatu kelompok. Beberapa pakar cenderung menganggap bahwa stereotip itu identik dengan prasangka, seperti Donald Edgar dan Joe R. Fagi. Dapat dikatakan bahwa stereotip merupakan komponen kognitif (kepercayaan) dari prasangka, sedangkan prasangka juga berdimensi perilaku. Jadi, prasangka ini konsekuensi dari stereotip, dan lebih teramati daripada stereotip. Richard W. Brislin mendefinisikan prasangka sebagai sikap tidak adil, menyimpang atau tidak toleran terhadap sekelompok orang. Seperti juga stereotip, meskipun dapat positif atau negatif, prasangka umumnya bersifat negatif. Prasangka ini bermacam-macam, yang populer adalah prasangka rasial, prasangka kesukuan, prasangka gender, dan prasangka agama. Prasangka mungkin dirasakan atau dinyatakan. Prasangka mungkin diarahkan pada suatu kelompok secara keseluruhan, atau seseorang karena ia anggota kelompok tersebut. Prasangka membatasi orang-orang pada peran-peran stereotipik. Misalnya pada prasangka rasial-rasisme semata-mata didasarkan pada ras dan pada prasangka gender-seksisme pada gendernya.

Brislin menyatakan bahwa prasangka itu mencakup hal-hal berikut : memandang kelompok lain lebih rendah, sifat memusuhi kelompok lain, bersikap ramah pada kelompok lain pada saat tertentu, namun menjaga jarak pada saat lain; berperilaku yang dibenci kelompok lain seperti terlambat padahal mereka menghargai ketepatan waktu. Ini berarti bahwa hingga derajat tertentu kita sebenarnya berprasangka terhadap suatu kelompok. Jadi kita tidak dapat tidak berprasangka. Wujud prasangka yang nyata dan ekstrem adalah diskriminasi, yakni pembatasan atas peluang atau akses sekelompok orang terhadap sumber daya semata-mata karena keanggotaan mereka dalam kelompok tersebut seperti ras, suku, gender, pekerjaan dan sebagainya. Contohnya diskriminasi terhadap orang negro yang ada di amerika.

Prasangka dapat menghambat komunikasi. Oleh karena itu, orang-orang yang punya sedikit prasangka pun terhadap suatu kelompok yang berbeda tetap saja lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang mirip dengan mereka karena interaksi demikian lebih meyenagkan daripada interaksi dengan orang tak dikenal. Ada beberapa contoh prasangka misalnya. orang Jepang kaku dan pekerja keras, orang Cina mata duitan, politikus itu penipu, wanita sebagai objek seks, dll. Prasangka mungkin tidak didukung dengan data yang memadai dan akurat sehingga komunikasi yang terjalin bisa macet karena berlandaskan persepsi yang keliru, yang pada gilirannya membuat orang lain juga salah mempersepsi kita. Cara yang terbaik untuk mengurangi prasangka adalah dengan meningkatkan kontak dengan mereka dan mengenal mereka lebih baik, meskipun kadang cara ini tidak berhasil dalam semua situasi.

(Mulyana, 2008; 243-247)

  1. RASIALISME

Rasialisme adalah suatu penekanan pada ras atau menitikberatkan pertimbangan rasial. Kadang istilah ini merujuk pada suatu kepercayaan adanya dan pentingnya kategori rasial. Dalam ideologi separatis rasial, istilah ini digunakan untuk menekankan perbedaan sosial dan budaya antar ras. Walaupun istilah ini kadang digunakan sebagai kontras dari rasisme, istilah ini dapat juga digunakan sebagai sinonim rasisme. Jika istilah rasisme umumnya merujuk pada sifat individu dan diskriminasi institusional, rasialisme biasanya merujuk pada suatu gerakan sosial atau politik yang mendukung teori rasisme. Pendukung rasialisme menyatakan bahwa rasisme melambangkan supremasi rasial dan karenanya memiliki maksud buruk, sedangkan rasialisme menunjukkan suatu ketertarikan kuat pada isu-isu ras tanpa konotasi-konotasi tersebut. Para rasialis menyatakan bahwa fokus mereka adalah pada kebanggaan ras, identitas politik, atau segregasi rasial.

Dalam website-online free dictionary, racialism didefinisikan sebagai perlakuan diskriminatif atau semena-mena yang diberikan kepada anggota suatu kelompok ras tertentu. Diskriminasi berupa perlakuan tidak adil seseorang atau suatu kelompok berdasarkan prasangka.

”racialism – discriminatory or abusive behavior towards members of another race “

http://en.wikipedia.org/wiki/Racialism

http://www.thefreedictionary.com/racialism

Rasialisme di sini menjadi sangat berbahaya karena selain menghambat keefektifan komunikasi antar budaya—antar ras yang berbeda, rasialisme dapat menjadi pemicu pertikaian antar ras, di mana konflik yang terjadi akan sulit sekali untuk didamaikan dan berlangsung lama. Contoh konflik akibat rasialisme yang pernah terjadi dan terkenal di Indonesia adalah konflik- rasialisme anti-Tionghoa, di mana di Indonesia pernah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap ras Tionghoa yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Butuh perjuangan yang panjang agar ras Tionghoa diterima dan diakui-dihargai keberadaannya.



{April 23, 2009}   Culture Shock

Banyak pengalaman dari orang-orang yang menginjakan kaki pertama kali di luat negeri, walaupun sudah siap, tetap merasa terkejut begitu sadar bahwa disekelilingnya banyak orang asing di sekitarnya. Orang biasanya akan merasa terkejut atau kaget begitu mengetahui bahwa lingkungan di sekitarnya telah berubah.

Orang terbiasa dengan hal-hal yang ada di sekelilingnya, dan orang cenderung suka dengan familiaritas tersebut. Familiaritas membantu seseorang mengurangi tekanan karena dalam familiaritas, orang tahu apa yang dapat diharapkan dari lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Maka, .ketika seseorang meninggalkan lingkungannya yang nyaman dan masuk dalam suatu lingkungan baru, masalah komunikasi akan dapat terjadi.

Sangat wajar, apabila seseorang yang masuk dalam lingkungan budaya baru mengalami kesulitan dan tekanan mental. Seperti yang dikatakan Nolan: “lingkungan baru membuat tuntutan-tuntutan dimana kita tidak tahu respon yang tepat, dan respon yang kita berikan tidak menunjukkan hasil yang dikehendaki.” Smith dan Bond juga menawarkan penjelasan yang lebih spesifik mengenai masalah yang timbul karena perpindahan tempat a/l: terpisah dari jaringan sebelumnya yang mendukung, perbedaan iklim, meningkatnya masalah kesehatan, perubahan sumber daya secara material dan teknis, kekurangan informasi tentang rutinitas sehari-hari, dan hal-hal lainnya.

Ketika kita masuk dan mengalami kontak dengan budaya lain, dan merasakan ketidaknyamanan psikis dan fisik karena kontak tersebut, kita telah mengalami gegar/ kejutan budaya/ culture shock.

Gegar budaya (culture shock) adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan yang diderita orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke lingkungan yang baru. Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambing-lambang dalam pergaulan social. Misalnya kapan berjabat tangan dan apa yang harus kita katakan bila bertemu dengan orang, kapan dan bagaimana kita memberikan tip, bagaimana berbelanja, kapan menolak dan menerima undangan, dsb. Petunjuk-petunjuk ini yang mungkin berbentuk kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah, kebiasaan-kebiasaan, atau norma-norma, kita peroleh sepanjang perjalanan hidup kita sejak kecil. Bila seseorang memasuki suatu budaya asing, semua atau hampir semua petunjuk ini lenyap. Ia bagaikan ikan yang keluar dari air. Orang akan kehilangan pegangan lalu mengalami frustasi dan kecemasan. Pertama-tama mereka akan menolak lingkungan yang menyebabkan ketidaknyamanan dan mengecam lingkungan itu dan menganggap kampung halamannya lebih baik dan terasa sangat penting. Orang cenderung mencari perlindungan dengan berkumpul bersama teman-teman setanah air, kumpulan yang sering menjadi sumber tuduhan-tuduhan emosional yang disebut stereotip dengan cara negatif. Misalnya, “Orang-orang Amerika Latin yang malas” “Orang Indonesia yang anarkis”, dsb. Pernah ada seorang Belanda dan beberapa orang Jepang yang mengalami kasus serupa ketika berkunjung ke Indonesia, mereka sama-sama mengalami diare akibat memakan masakan Indonesia. Mereka hanya bisa menerima makanan dari restorant-restorant berlisensi barat seperti Hartz, Pizza Huts, dll, atau restorant Jepang. Orang Belanda tersebut langsung melakukan stereotip bahwa makanan di Indonesia kurang higenis.

Sojourneys dan Settlers

Ada perbedaan antara pengunjung sementara (sojourney) dengan orang yang mengambil tempat tinggal tetap, misalnya di suatu Negara (settler). Seperti yang dikatakan oleh Bochner: karena respek mereka terhadap pengalaman kontak dengan budaya lain berbweda, maka reaksi mereka pun berbeda. Settlers berada daalm proses membuat komitmen tetap pada masyarakat barunya, sedangkan sojourneys berada dalam landasan sementara, meskipun kesementaraannya bervariasi, antara turis dalam sehari, sampai pelajar asing dalam beberapa tahun.

Definisi Culture Shock

Istilah culture shock pertama kali diperkenalkan oleh antropologis bernama Oberg. Menurutnya, culture shock didefinisikan sebagai kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan semua lambing dan symbol yang familiar dalam hubungan social, termasuk didalamnya seribu satu cara yang mengarahkan kita dalam situasi keseharian, misalnya: bagaiman untuk memberi perintah, bagaimana membeli sesuatu, kapan dan di mana kita tidak perlu merespon.

Banyak definisi dari para ahli tentang gegar budaya, namun pada initinya, jika kami menyimpulkan, gegar budaya adalah kondisi kecemasan yang dialami seseorang dalam rangka penyesuaiannya dalam lingkungan yang baru di mana nilai budaya yang ada tidak sesuai dengan nilai budaya yang dimilikinya sejak lama. Deddy Mulyana lebih mendasarkan gegar budaya sebagai benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan pesepsi berdasarkan faktor-faktor internal (nilai-nilai budaya) yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami. Lingkungan baru dapat merujuk pada agama baru, sekolah baru, lingkungan kerja baru, dsb. Contohnya ada seorang Australia yang mengunjungi sahabat penanya di Malaysia dan tinggal di rumah sahabatnya itu untuk sementara waktu, dia terkejut seputar kamar mandi dan toilet. Kmar mandi yang berupa ruangan sempit dengan makuk besar berisi air dingin dan sebuah gayung sementara toiletnya hanya berupa ruang kecil dimana dipojokannya ada lubang kecil di dasar lantainya. Orang tersebut mengalami kesulitan karena dirinya terbiasa dengan kamar mandi modern, dengan bathtub dan shower serta air hangat. Ada orang Indonesia yang mendapat beasiswa study di Paris, merasa kurang nyaman melihat perilaku-perilaku mesra para lesbi dan gay yang ditunjukan secara vulgar di sekitarnya. Dia tidak terbiasa dengan pasangan homogen di Indonesia karena komunitas marginal tersebut lebih tertutup dan mendapat perlakuan diskriminatif oleh banyak pihak di Indonesia. Sementara di Paris dan beberapa negara liberal, komunitas mereka adalah independen dan bebas. Berciuman dan bermesraan di depan umum pun tidak dianggap suatu perbuatan memalukan.

Reaksi pada culture shock

Reaksi terhadap culture shock bervariasi antara 1 individu dengan individu lainnya, dan dapat muncul pada waktu yang berbeda. Rwekasi-reaksi yang mungkin terjasi, antara lain:

  1. antagonis/ memusuhi terhadap lingkungan baru.
  2. rasa kehilangan arah
  3. rasa penolakan
  4. gangguan lambung dan sakit kepala
  5. homesick/ rindu pada rumah/ lingkungan lama
  6. rindu pada teman dan keluarga
  7. merasa kehilangan status dan pengaruh
  8. menarik diri
  9. menganggap orang-orang dalam budaya tuan rumah tidak peka

Tingkat-tingkat Culture shock (u-curve)

Meskipun ada berbagai variasi reqaksi terhadap culture hock, dan perbedaan jangka waktu penyesuaian diri, sebagian besar literatur menyatakan bahwa orang biasanya melewati 4 tingkatan culture shock. Keempat tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva u, sehingga disebut u-curve.

Fase optimistic, fase pertama yang digambarkan berada pada bagian kiri atas dari kurva U. fase ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan, dan euphoria sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru

Masalah cultural, fase kedua di mana maslah dengan lingkungan baru mulai berkembang, misalnya karena kesulitan bahasa, system lalu lintas baru, sekolah baru, dll. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis daalm culture shock. Orang menjadi bingung dan tercengan dengan sekitarnya, dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap permusuhan, mudah marah, tidak sabaran, dan bahkan menjadi tidak kompeten.

Fase recovery, fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. Pada tahap ini, orang secara bertahap membuat penyesuaian dan perubahan dalam caranya menanggulangi budaya baru. Orang-orang dan peristiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan.

Fase penyesuaian, fase terakhir, pada puncak kanan U, orang telah mengertpi elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai, adapt khusus, pola keomunikasi, keyakinan, dll). Kemampuan untuk hidup dalam 2 budaya yang berbeda, biasanya uga disertai dengan rasa puas dan menikmati. Namun beberapa hali menyatakan bahwa, untuk dapat hidup dalam 2 budaya tersebut, seseorang akan perlu beradaptasi kembali dengan budayanya terdahulu, dan memunculkan gagasan tentang W curve, yaitu gabungan dari 2 U curve.

Deddy Mulyana menyebut gegar budaya sebagai suatu penyakit yang mempunyai gejala dan pengobatan tersendiri. Beberapa gejala gegar budaya adalah buang air kecil, minum, makan dan tidur yang berlebih-lebihan, takut kontak fisik dengan orang-orang lain, tatapan mata yang kosong, perasaan tidak berdaya dan keinginan untuk terus bergantung pada penduduk sebangsanya, marah karena hal-hal sepele, reaksi yang berlebihan terhadap penyakit yang sepele, dan akhirnya, keinginan yang memuncak untuk pulang ke kampung halaman.

Derajat gegar budaya yang mempengaruhi orang berbeda-beda. Ada beberapa orang yang tidak dapat tinggal di negara asing. Namun, banyak pula yang berhasi menyesuaikan diri dengan lingkunagan barunya. Deddy Mulyana juga memaparkan tahapan-tahapan penyesuaian orang terhadap lingkungan barunya yang hampir mirip dengan tahapan sebelumnya. Tahap pertama yang disebut tahap ‘bulan madu’ berlangsung dalam beberapa minggu sampai 6 bulan dimana kebanyakan orang senang melihat hal-hal baru. Orang masih bersemangat dan beritikad baik dalam menjalin persahabatan antarbangsa. Tahap kedua dimulai ketika orang mulai menghadapi kondisi nyata dalam hidupnya, ditandai dan dimulai dengan suatu sikap memusuhi dan agresif terhadap negeri pribumi yang berasal dari kesulitan pendatang dalam menyesuaikan diri. Misalnya kesulitan rumah tangga, kesulitan transportasi dan fakta bahwa kaum pribumi tak menghiraukan kesulitan mereka. Pendatang menjadi agresif kemudian bergerombol dengan teman-teman sebangsa dan mulai mengkritik negeri pribumi, adat-istidatnya, dan orang-orangnya. Tahap ketiga pendatang mulai menuju ke kesembuhan dengan bersikap positif terhadap penduduk pribumi. Tidak lagi menimpakan kesulitan-kesulitan yang dialami sebagai salah penduduk pribumu atas ketidanyamanan yang dialaminya tetapi mulai menanggulanginya, “ini masalahku dan aku harus menyelesaikannya”. Pada tahap keempat, penyesuaian diri hampir lengkap. Pendatang sudah mulai menerima adat-istiadat itu sebagai cara hidup yang lain. Bergaul dalam lingkungan-lingkungan baru tanpa merasa cemas, walau kadang masih ada ketegangan sosial yang nantinya seiring dalam pergaulan sosialnya ketegangan ini akan lenyap. Akhirnya pendatang telah memahami negeri pribumi dan menyesuaikannya, hingga akhirnya, ketika pulang ke kampung halaman pun kebiasaan di negeri pribumi tersebut akan dibawa-bawa dan dirindukan.

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:right; mso-pagination:widow-orphan; direction:rtl; unicode-bidi:embed; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar Edisi Revisi. 2008.

Indonesia : Rosda.

Mulyana, Deddy. Komunikasi AntarBudaya.Paduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya.

Samovar




dibukanya pencontrengan massal di seluruh wilayah/distrik di Indonesia hari ini…..Rakyat berbondong-bondong memenuhi pos-pos pemilihan yang ada disekitar tempat tinggalnya. Walau harus bersabar dengan antrian yang super panjang dan cuaca yang mulai memanas,ternyata tidak menjadi halangan bagi warga untuk menyerukan nasionalismenya. TPS Jatirejo, kecamatan Mlati kabupaten Sleman, warga yang berpartisipasi cukup banyak….Masih banyak warga di daerah ini yang peduli pada nasib bangsa dan ikut memberikan suaranya. Namun, apakah semua warga berpartisipasi???sepertinya tidak…sebagian orang memilih untuk golput. Kebanyakan dari mereka memilih untuk berdiam diri di rumah, malas antri mencontreng. Tiada smangat untuk menyuarakan suara mereka. Salahkah mereka yang menjadi golput? Salah siapakah mereka menjadi golput???Mengapa mereka tidak bersemengat menyambut pemimpin-pemimpin baru yang akan memimpin mereka sebagai bangsa???Apakah caleg-caleg begitu tidak dipercaya??? Mengapa sebagian warga kehilangan kepercayaannya terhadap pemimpin-pemimpin negaranya??? Apakah para caleg belum mampu menunjukan kredibilitas dan kualitas yang layak untuk menjadi seorang pemimpin??? Salah siapa warga negara menjadi apatis??? Bukankah para caleg secara eksplisit gencar sekali melakukan kampanye dengan berbagai strategi dan konteks bahkan melakukan manipulasi kampanye???? apa karena terlalu berlebihanya mereka mengkampanyekan diri mereka malah membuat mereka tidak kredibel dan kehilangan kepercayaan warga???yang jelas sebagian besar warga tidah tahu dan tidak mengenal siapa caleg-caleg yang akan dipilihnya. Apakah hal ini membuktikan ketidakefektivan iklan dipasang dijalan-jalan atau disebarkan dalam bentuk brosur yang sebagian besar hanya menjadi sampah…kecurangan-kecurangan dalam pemilu pun sudah cukup banyak terjadi mewarnai pemilu yang katanya bebas, bersih, jujur, dan adil ini.



Baran Stanley thinking about mass communication

WHAT IS MASS COMMUNICATION?
Communication defined as transmission of a message from a source to a receiver. Harold Lasswell describes communication by his questions: who, says what, through which channel, to whom, and with what effect? But, it doesn’t enough yet, Schramm represent the reciprocal nature of communication (depiction of interpersonal communication). Communication then, is better defined as the process of creating shared meaning. So, mass communication is the process of creating shared meaning between the mass media and their audience. How mass communication differs from other forms of communication? Feedback in mass communication is delayed inferential feedback. Feedback comes too late to enable corrections or alterations in communication that fails. James W. Carey offered a cultural definition of communication (viewed the relation between communication and culture). Carey wrote, “Communication is a symbolic process whereby reality is produced, maintained, repaired and transformed”. Communication and reality are linked. Communication is the foundation of our culture.

WHAT IS CULTURE?
Culture is the learned behavior of the members of given social group (culture is learned). It’s so meaningful. Creation and maintenance of a more or less common culture occurs through communication, including mass communication. Meaning is being shared, and culture is being constructed and maintained.

FUNCTIONS AND EFFECTS OF CULTURE
It helps us categorize and classify our experiences and define us, our world, and our place in it.
 Limiting and liberating effects of culture.
A culture’s learned traditions and values can be seen as patterned, repetitive ways of thinking, feeling, and acting. It limits our options and provides useful guidelines for behaviors. Liberation from the limitations imposed by culture resides in our ability and willingness to learn and use new patterned, repetitive ways of thinking, feeling, and acting, to challenge existing patterns, and to create our own.
 Defining, differentiating, dividing, uniting effects of culture.
We defined by our culture. The stereotype, whatever it may be, will probably fit us only incompletely, or perhaps hardly at all.
Smaller cultures unite groups of people and enable them to see themselves as different from other groups around them. Our culture can divide us, but our culture also unites us. Our culture represents our collective experience. We converse easily with strangers because we share the same culture.

MASS COMMUNICATION AND CULTURE
 Micro versus macro- level effects.
Media have relative few direct effects at the personal (micro level) but much more important, impact of media operates at the cultural or macro level. Violence on TV contributes to the cultural climate in which real-world violence becomes. The micro level view is that TV violence has little impact because most people are not directly affected. The macro level view is that TV violence has a great impact because it influences the culture climate.
 Administrative versus critical research
For decades the only proofs of media effects that science would accept were those with direct, observable, immediately effects. Critical research asking large question about what kind of nation we are building, what kind of people we are becoming.
 Transmissional versus ritual perspective.
Transmissional perspective sees media as sender of information or the purpose of control, that is, media either have effects on our behaviors or they do not. The ritual perspective views media not as a means transmitting “messages in space” but as central to “the maintenance of society in time. Mass communication is “not the act of imparting information but the representation of shared beliefs.

MASS COMMUICATION OPPORTUNITIES AND RESPONSIBILITIES
We allow mass communication not only to occur but also to contribute to the creation and maintenance of culture. Everyone involved has an obligation to participate responsibly. For people working in the media industries, this means professionally and ethically creating and transmitting content. For audience members, it means behaving as critical and thoughtful consumers of that content.
 Mass media as cultural storytellers.
A culture’s values and beliefs reside in stories it tells. Our stories help define our realities, shaping the ways we think, feel, act.
Storytellers have remarkable opportunity to shape culture. They also have a responsibility to do so in as professional and ethical a way as possible. The audience use stories not only to be entertained but to learn about the world around them, to understand the values, the things work, and how the pieces fit together. They have responsibility to question, to reflect on the stories, to do less is to miss an opportunity to construct their own meaning and, thereby culture.
 Mass communication as cultural forum.
Mass communication has become a primary forum for debate about our culture. Logically, then, the most powerful voices in the forum have to shape our definitions and understandings.

SCOPE AND NATURE OF MASS MEDIA
It is possible to deny that an enormous portion of our lives is spent in interaction with mass media. Despite the pervasiveness of mass media in our lives, many of us are dissatisfied with or critical of the media industry’s performance and much of the content provided- comes in part from our uncertainties about the relationships among the elements of mass communication.
 The role of technology
This perspective accepts technology as one of many factors that shape economic and cultural change, technology’s influence is ultimately determined by how much power it is given by the people and cultures that use it. Technology can be our best friend and also be the biggest party pooper of our lives. Technology does have an impact communication. At the very least it changes the basic elements of communication. What technology does not do is relieve us of our obligation to use mass communication responsibly and wisely.
 The role of money.
Keep in our mind that media industries are businesses. This doesn’t mean, however, that media are or must be slaves to profit.
There is a growing concentration of ownership and conglomeration, rapid globalization, increased audience fragmentation, hyper commercialism, and steady erosion of traditional distinction among media-that is convergence.



Keith merujuk istilah ‘media’ untuk perangkat komunikasi dalam hubungan sosial dan budaya yang tidak tergantung pada interaksi tatap muka sang individu. Berbagai media ini didasarkan pada teknologi elektronik dan cetak. Media berimplikasi terhadap hancurnya nilai budaya dan nilai moral suatu masyarakat. Kata nilai mempunyai 2 makna. Pertama, nilai yang merajuk pada produk budaya(cultural goods) seperti buku, percetakan, film, dan program TV yang digunakan untuk membuat produk tersebut supaya menjadi lebih bernilai, diminati atau tidak. Maka, di sini nilai adalah tentang makna yang dihubungkan atau diberikan kepada objek dan aktivitas, makna apakah produk itu berbudaya atau tidak. Kedua, nilai merujuk pada prinsip-prinsip moral, tujuan dan standar yang dianut oleh idividu, kelas sosial, dan masyarakat. Apakah objek atau aktivitas sesuai dengan atau mendukung standar moral individu atau kelompok yang bersangkutan.

Cultural studies mengklaim bahwa studi tentang media adalah miliknya. Bidang ini sangat tertarik untuk mengungkap atau mengeksplorasi dimensi politis dari media dan teks-teksnya. Keith menggunakan pendekatan sosiologi dalam berbicara mengenai persoalan dan dampak media terhadap nilai-nilai moral dan budaya, berkaitan apa yang dapat dilakukan media terhadap orang-orang yang menonton dan membacanya. Media telah mengubah massa audien menjadi sekumpulan individu yang terisolasi dan dengan demikian media memainkan peranannya dalam menanggalkan ikatan moral dan ikatan solidaritas sosial yang menghubungkan kiata bersama. Media telah menciptakan audien yang pasif yang bagaimana pun telah terjebak di dalam dunia konsumsi barang-barang dan kesenangan yang dirasionalisasikan. Individu cenderung berpaling pada TV dan radio karena media tersebut menawarkan pelarian dari kesepian dan kebosanan. Media tersebut menawarkan semacan pertemanan.

Setiap orang menonton TV tiap harinya. Masyarakat, bisa menjadi subyek, pada kondisi kepanikan moral. Hal tersebut muncul ketika kondisi, peristiwa,orang atau sekelompok orang menjadi ancaman bagi nilai-nilai dan kepentingan masyarakat, karakteristiknya ditampilkan dalam bentuk yang menyesuaikan perkembangan zaman dan distereotipekan oleh media massa. Media melakukan penyeragaman budaya. Contohnya saja hampir semua media elektronik di Indonesia pada saat bersamaan menyiarkan ‘adzan magrib’ padahal tidak semua rakyat Indonesia beragama muslim dan tidak semua adzan magrib waktunya bersamaan Melalui medialah kelompok atau aktivitas tertentu bisa di identifikasikan sebagai ancaman terhadap segala sesuatu yang kita yakini sebagai sacral. Mengingat sifat media adalah provokatif.



asianstars

CHARACTER:

Majalah ini khusus menampilkan artis-artis mandarin dan korea terutama yang sedang ‘in’ atau yang sedang ‘naik daun’. Terbit setiap bulan. Isinya seputar gossip-gosip dari artis yang bersangkutan. Artikel-artikelnya pun difokuskan seputar kehidupan artis-artis asia tersebut. Gaya hidunya bagaimana, apa yang sedang dikerjakan, lagu atau film baru apa yang dirilis dan yang baru popular/digemari, seperti apa style rambut dan gaya bajunya, yang jelas majalah ini secara garis besar menampilkan karakter-karakter artis asia (mandarin dan korea). Dari sekitar 120 halamnan, 103 halaman membahas masalah-masalah yang tersebut di atas. Sisanya membahas fashion (model dan baju yang ditampilkan bergaya mandarin), zodiac, shio, dan sedikit artikel tentang kecantikan kulit yang lebih ditujukan bagi perempuan. Bisa dibilang majalah ini fullcolor, fullartis (artisnya yang disorot jumlahnya lebih dari 20), and fullpicture. Cover memikat dengan gambar atau foto artis yang akan dibahas di dalam halaman rubik majalah. Foto dan gambar yang ditampilkan dalam setiap halaman tidak segan-segan banyaknya. Iklan yang ada hanya sedikit, malahan dalan edisi februari-maret kurang dari 5 halaman. Tidak segan-segan pula asiastars juga memberikan bonus berupa DVD lagu-lagu dari artis korea ataupun mandarin yang akan diberikan di setiap edisinya mulai edisi bulan februari ini. Bisa dibilang sesuai dengan harganya, yaitu sekitar Rp 35.000,00. secara sepintas majalah terasa exclusive.

Istimewanya majalah ini, artis mandarin dan koreanya tidak dicampur tetapi dipisah. Bagian depan seputar artis mandarin-asianstars, sedangkan dari tengah halaman kebelakang seputar Korean stars. Masing-msing kurang lebih ada sekitar 10 rubrik. Rubrik galeri, asal tahu, profil, wacana, dan jejak bintang yang berisi seputar kehidupan para artis yang disorot(termasuk gossip dan wawancara mendalam tentang pribadi artis yang bersangkutan). Kemudian rubrik serial tentang film serial/drama yang sedang dirilis atau yang sedang popular, yang dilengkapi juga oleh resensinya di rubrik selanjutnya yaitu rubrik resensi serial. Ada pula rubrik MV yang membahas artis yang main di album video. Untuk album-baru yang dirilis disediakan rubrik khusus tersendiri dan disertai resensinya. Terakhir ada rubrik TOPCHART yang menampilkan peringkat lagu-lagu apa saja yang sedang ‘in’. bisa disimpulkan ini majalah khusus penggemar artis mandarin-korea terlebih bagi penggemar perempuan. Kami merasa majalah ini lebih ditujukan bagi perempuan dilihat dari model bajunya, aksesoris-aksesoris yang ditawarkan, tips-tips yang ada, semuanya ditujukan untuk perempuan. Jika dilihat-lihat, ternyata porsi artis perempuan dan artis pria lebih banyak porsi artis prianya mengingat kaum hawa lebih mengidolakan kaum adam. Dibuktikan surat-surat yang masuk untuk redaksi semuanya berasal dari pembaca perempuan. Sasarannya lebih cenderung ke arah remaja dan anak muda (perempuan).

PANDANGAN POSITIVISME

Dilihat dari penyebaran penduduk china yang bisa dibilang ‘memukau’ di seluruh dunia, terutama di Indonesia, majalah ini tentunya menjadi sesuatu yang ‘khas’ bagi masyarakat china di Indonesia agar bisa memperoleh informasi mengenai seputar artis –artis yang sebangsa. Ciri ‘specialized’ ini bisa menjadi daya tarik dan keuntungan tersendiri.

Secara ekonomi majalah ini tentunya sangat diharapkan kelangsungannya dan disyukuri karena tidak bisa dipungkiri majalah ini sudah menjadi ladang usaha dan sumber penghidupan bagi banyak orang di dalamnya. Tidak hanya sebagai sumber pekerjaan bagi orang-orang yang berkecimpung lansung di dalamnya, tetapi juga bagi distributor, dan usaha-usaha lain yang terkait, misalnya pabrik penyuplai kertas.

Secara fungsional majalah ini lebih berfungsi sebagai media informasi tentang berbagai berita atau peristiwa seputar artis luar negeri (kore dan mandarin). Lebih detail ditinjau ke arah fungsi komunikasi massa seperti yang dikemukakan beberapa ahli, yaitu surveillance, interpretation, linkage, transmission of values, dan entertainment (Elvinaro, dkk : 2007).

Fungsi pengawasan instrumental misalnya pada berita-berita tentang film baru yang dirilis pada rubric SERIAL. Ada pula informasi mengenai siapa artis-artis pemerannya dan juga synopsis ceritanya. Ada info tentang lagu-lagu yang sedang popular dan digemari lewat rubric TOP CHART. Beberapa halaman terakhir pun membahas sedikit tentang fashion mandarin-korea yang sedang trend lewat busana yang dikenakan model-modelnya. Ada pula sedikit tips tentang kecantikan kulit.

Secara interpretation, majalah ini lebih mengulas kehidupan artis-artis mandarin-korea. Asianstars berusaha memuat artikel-artikel seputar gossip-gossip yang menerpa artis (tentang apa yang sedang terjadi, gaya hidupnya, apa atau siapa yang sedang disulai, dll) yang dibahas di setiap rubriknya dan berusaha mengorek privasi artis tersebut untuk diberitakan atau dipublikasikan kepada khalayak. Untuk para fans atau penggemar artis asia, tentu mereka merasa ingin dan berhak tahu berita seputar artis favoritnya. Jadi, kami menyimpulkan ini adalah majalah khusus fans_nya artis asia, dan ternyata, setahu kami, hanya penggemar artis asia saja yang berminat dan membelinya, bahkan sebagian orang tidak tahu majalah ini ada.

Fungsi linkage jelas terlihat. Lewat majalah ini, Indonesia-korea-mandarin jelas terhubung. Fans tahu apa yang sedang terjadi atau ada berita apa tentang artis fevoritnya nun jauh di Korea-Taiwan. Tentu tanpa pergi ke Korea-Taiwan secara langsung atau bertanya langsung pada artis yang bersangkutan. Di sini media sebagai penghubung antara fans di Indonesia dengan artis asia. Ada juga penghubng antara penjual dan pembeli lewat iklan yang ditawarkan.

Fungsi penyebaran nilai-nilai juga terlihat jelas. Pada majalah ini jika dilihat secara teliti, tampak adanya sosialisasi mengenai budaya mandarin yang direfleksikan oleh gambaran pandangan, cara, gaya hidup, para artis mandarin. Kita menjadi tahu seperti apa gaya hidup, carahidup, pandangan-pandangan artis-artis di Korea-Taiwan. Pembaca khususnya penggemar bisa jadi menirunya. Menjadi positive bilai nilai yang ditiru itu baik, misalnya dijabarkannya tipe orang yang disukai artis dapat membuat pembacaya merubah sifat-sifatnya sesuai yang disebutkan artis tersebut, tentunya ke arah yang lebih baik, karena pada dasarnya tipe-tipe orang yang disukai yang diungkapkan artis-artis tersebut sangat baik seperti pintar, berkharekter dan berkharisma, elegan, baik, ramah, ceria, dll.

“media mewakili kita dengan model peran yang kita amati (ditonton, didengar, dan dibaca) dan harapan untuk menirunya.” (Elvinaro,dkk, hlm.16 : 2007)

“one common objective was to identify those texts that had greatest cultural value and to interpret them so that their value would appreciated and understood by others……by identifying and explaining these important texts to make them more accessible to more people” (Baran and Davis : 2003)

Fungsi hiburan majalah ini bisa dibilang terletak pada artikel-artikel beritanya dan foto-foto artis di dalamnya.

“fungsi dari media massa sebagai fungsi menghibur tiada lain tujuannya adalah untuk mengurangi kepenatan dan ketegangan pikiran khalayak, karena dengan membaca berita-berita ringan……membuat pikiran khalayak segar kembali” (Elvinaro,dkk, hlm. 17: 2007)

Media bisa menjadi penghilang perasaan tidak nyaman, misalnya kesepian, marah, kesal, kecewa, dan sebagainya sebagai pemuasan kebutuhan psikologis.

PANDANGAN MARXIST

Majalah pada umumnya, termasuk majalah ini, sangat tinggi daya persuasive dan pengaruhnya. Kita harus mengevaluasi secara kritis pesan-psan dalam majalah ini seputar pengaruhnya terhadap masyarakat kita beserta budaya kita. Seperti diungkapkan John R. Bittner, bahwa reaksi kita terhadap setiap pesan di media tdaklah sama. Setiap pesan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi masyarakat beserta budayanya dan dapat berdampak negative. Karena majalah sebagai media massa dapat membentuk opini public dan berfungsi sebagai socialization yang dapat diadaptasi. Mengingat budaya semua tmpat khususnya Indonesia-mandarin tidak sama, tentu ada budaya yang bertentangan bukan? Bagus kalau positive, kalau negative??? Setidaknya ada 3 sosialisasi budaya. Pertama, budaya mandarin itu sendiri, kedua budaya artis mandarin, dan ketiga adalah budaya gila artis mandarin. Budaya mandarin tampak dari cara berpakaian atau fashion di sana yang dipaparkan salah satu rubric majalah ini. Tentu saja dengan UU APP yang baru di Indonesia cara berpakaian seperti itu bakal ditolak yang di sana diaggap wajar (di sana belum ada UU APP). Contohnya lagi, pandangan kolot di mandarin mengenai aturan pria lah yang harus mengejar wanita. Di mana wanita yang agresive masih dinilai buruk dan tabu (diungkapkan oleh sebagian besar artis-artis yang diwawancarai). Sedangkan di Indonesia sudah tidak jamannya lagi wanita harus menunggu pria bergerak duluan. Kalau prianya tidak bergerak juga?? Bisa tidak pacaran toh kita??? Ini bisa juga menjadi masalah gender. Di sini mungkin kedudukan wanita masih lebih baik daripada di sana. Feminisme gencar diserkan di sini. Gaya artis-artis mandarin yang hampir semuanya bisa dibilang mirip jelas terlihat dari cara berpakaian yang mencolok, yang kalau di Indonesia kostum-kostumnya dinilai aneh “freak”. Terlihat juga pose-pose foto artis-artisnya yang terkesan glamour, elegan, yang jelas di Indonesia mereka dinilai ‘narsis’.Gaya hidup yang terlihat glamour, elegan, boros,exclusive dapat membuat minder kita yang melihatnya. Parahnya, jika ingin meniru tetapi tidak bisa karena berbagai keterbatasan dan kondisi Indonesia yang berbeda. Bisa-bisa kita depresi sendiri. Majalah ini juga kami nilai sebagai penyosialisasian budaya gila artis. Bagaimana kita diajak dan dibuat agar ikut-ikutan mengidolakan mereka. Terlebih dengancara yang ekstrim atau berlebihan dan ingin tahu semua hal tentang mereka, parahnya jika melewati batas kewajaran. Kita dibuat tergila-gila pada mereka. Bisa-bisa kita tidak dapat mengontrol emosi kita sendiri dan begitu mendewakan mereka. Kenyataanya, hampir semua fans asianstars yang membaca majalah ini seperti itu. Mereka sibuk mengumpulakan poster, foto, gambar, album lagu artis secara berlebihan. Bisa jadi mereka kehilangan rasionalitas mereka dan rela melakukan apa saja untuk sesuatu hal berkaitan dengan artis idola mereka.

“culture is reflection of media messages, and messages consist symbols”

“media messages influences that can change a culture, even dominate it…..consumers can caged and blinded else their links with the past, like an exploding star”

“ actors and actresses as spokespersons for commercial products on a global scale” (Bittner : 1996)

Secara pribadi, menurut kami, artikel-artikel seputar artis asia ini (seputar gossip, gaya hidunya, dll) sangat tidak penting. Kami tidak butuh informasi tentang kehidupan pribadi mereka. Apa atau siapa yang sedang mereka sukai, tipe cewek mereka, dll, sangat tidak berhubungan dengan kami. Yah, bisa dibilang nilai beritanya kecil. Itu menurut kami, tetapi dilihat secara keseluruhan, bagi fans, informasi seperti itu sangat diminati. Mereka merasa ingin dan berhak untuk tahu. Mengingat para artis bukanlah apa-apa tanpa fans_nya. Atas dasar mereka bekerja untuk fans, privasi artis harus dipublikasikan. Oleh karena itu, tulisan-tulisan yang diragukan nilai beritanya itu bisa dibilang artikel berita. Namun berlaku hanya untuk fans_nya saja sementara bagi sebagian besar dinilai tidak penting Bukankah kita tidak senang jika privasi kita dicampuri, lalu karena orang itu adalah artis maka orang itu senang dan boleh privasinya diusik? Mungkin tidak salah kalau kita tahu artis-artis korea-mandarin, karena itu adalah bukti kita cukup komunikatif-up to date, tetapi apakah perlu sampai kita tahu secara mendetail tantang privasi orang??apakah penting bagi kita?? I guess not. Toh, info tentang gaya hidup, makanan atau warna favorite artis tersebut juga tidak berguna atau bermanfaat bagi kita. Lebih jelas lagi, mungkin gaya hidup artis mandarin berbeda dan tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. Menjadi gawat jika ditiru. Misalnya salah satu artikel mengulas kehidupan salah satu artis yang tinggal bersama pacarnya tanpa status paernikahan yang oleh sebagian besar budaya di Indonesia bertentangan atau tidak wajar.

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala, dan Siti Karlinah. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa.

Bittner, John R. 1996. Mass Communication.

Baran, Stanley J. 2003. Mass Communication Theory. Foundation, Ferment, and Future. Canada: wadsworth.



et cetera