Luciatriedyana’s Weblog











{May 25, 2009}   ruang publik (publick sphere)….

Ruang Publik (Public Sphere)

Public sphere, muncul berawal dari pemikiran Habermas, merupakan suatu ruang di mana terdapat kebebasan dari intervensi, dan orang-orang yang ada di dalamnya terbebas dari ikatan atau pengaruh luar, terutama dari negara dan pemerintah. Ide-ide dalam masyarakat diterima dengan bebas (kekuasaan terbuka terhadap aksesnya), didiskusikan, maupun diperdebatkan. Public sphere merupakan hal penting dalam masyarakat. Public sphere adalah tempat di mana opini public terbentuk dan akses publik terhadap keselamatan publik, komersial, industri, morality, dan juga termasuk hal-hal yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan diperhatikan. Tidak ada kekuasaan termasuk kekuasaan politik dan kelompok borjuis yang dapat menolak aksesnya terhadap publik. Dapat dikatakan unsur demokrasi berkembang di dalamnya (Bucy dan Newhagen, 2004 : 187-190).

Opini publik dalam konteks public sphere adalah bebas dan dapat diakses. Opini public adalah nilai – nilai serta keyakinan yang mesti diterapkan dalam masyarakat bila seseorang tidak ingin dirinya terisolasi; dalam area –area controversial ataupun transisional , opini public adalah nilai2 yang biasa dituangkan tanpa adanya penutupan diri. Dalam lingkup opini public, terdapat pula pandangan – pandangan yang bersifat minoritas. Dalam artian, media public biasanya memilih subjek – subjek yang menarik bagi masyarakat, dan media membuat subjek tersebut menjadi kontroversial. Dalam tiap opini public, terdapat kaum mayor dan minoritas. Dimana kaum minoritas biasanya cenderung terpojokkan di dalam pengkomunikasian pendapat mereka. Sedangkan kaum mayoritas dapat lebih bebas mengutarakan pandangan mereka tentang permasalahan public yang beredar. Kaum minoritas cenderung mengungkapkan pandangan mereka dalam bentuk aktivitas – aktivitas untuk menunjukkan eksistensi mereka. Sehingga dalam hal ini, ruang public seharusya berfungsi sebagai tempat dimana public dapat mengkomunikasikan opini nya, tanpa adanya pengaruh tekanan dari kaum yang menjadi mayoritas (West dan Turner, 2007 : 444-449).

Media Sebagai Public Sphere

Media mengkomunikasikan opini public. Seringkali media memilih subject yang akan menarik minat masyarakat & media kadang membuat nya tampak begitu controversial. Media membantu public untuk menginformasikan wujud masyarakat yang selalu berubah dari waktu ke waktu. Media mempengaruhi opini public tentang berbagai macam public issue yang beredar. Meskipun terkadang media bekerja secara simulatif terhadap opini pubic yang dominant, sebagai peredam aspirasi kaum minoritas, tetapi media merupakan alat paling efektif guna menyampaikan opini  public terhadap public issue yang beredar (West dan Turner, 2007 : 449). Jadi media dapat berfugsi sebagai ruang public ketika media dapat memposisikan dirinya secara baik sebagai ruang dengar opini public yang menampung aspirasi public terhadap suatu permasalahan maupun realita social budaya yang beredar.

Media massa sebagai public sphere harus melayani masyarakat akan informasi yang benar dan faktual dalam pemberitaannya. Tidak seharusnya media massa dibatasi kekuasaan politik ataupun pemilik modal. Namun, realitasnya, sampai saat ini jurnalis dalam memberitakan berita kepada publik masih terkait dengan idiologi pemilik modalnya (Bucy dan Newhagen, 2004 : 192-193).

Contoh Media yang Telah Menjadi Public Sphere

Media saat ini bebas menyiarkan kebobrokan pemerintahan yang ada tanpa dibatasi atau dihalangi oleh kekuatan politik pemerintah seperti jaman Orba dahulu. Kasus korupsi, perbuatan-perbuatan asusila dan immoral pejabat-pejabat Negara yang tidak segan-segan diberitakan oleh media telah membuktikan media sebagai ruang public yang memberitakan kebenaran kepada public. Kebenaran dan Informasi dapat diakses public lewat media.

Contoh media yang memberikan layanan keselamatan public tampak dalam iklan layanan kesehatan waspada flu burung yang gencar diekspose media beberapa waktu lalu saat virus ini menginfeksi sebagian dari masyarakat. Iklan layanan masyarakat tentang ’ cegah flu burung’. Dalam kasus ini, media menjalankan fungsinya sebagai ruang public yang merangkum opini public dalam menanggapi issue public yang beredar. Public menanggapi issue flu brung yang sedang marak dengan opini – opini yang beredar di masyarakat. Kemudian, media sebagai ruang public yang menyuarakan kekuatiran public tentang bahaya flu burung, menginformasikan opini publik yang beredar sehubungan dengan permasalahan ini.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: