Luciatriedyana’s Weblog











{May 25, 2009}   Regulasi Media Massa

Regulasi Media Massa

Kebebasan pers itu penting. Hanya dengan kebebasan berbagai komunikasi dapat disampaikan kepada masyarakat. Media massa yang tidak punya kebebasan dalam menyiarkan beritanya, ibarat sudah kehilangan sifat dasarnya. Bagaimana mungkin ia dapat memberitakan ’kebobrokan’ di kalangan masyarakat tanpa ada kebebasan yang dipunyai pers untuk mengungkap dan menyiarkannya? Oleh karena itu, tidak boleh ada pengekangan apa pun terhadap pers. Pemerintah tidak berhak ikut campur dalam media massa, apapun alasannya. Alasan pemerintah jadi bisa ikut membina pers, atau menyelesaikan sengketa pers, tetapi cepat atau lambat, jika dibiarkan berlarut-larut bukan mustahil pers akan kehilangan kebebasannya. Berbagai proses penghambatan pers dalam usaha menyiarkan berita sudah selayaknya dihilangkan. Jadi kebebasan pers adalah penting dalam kehidupan pers. Tetap, kebebasan pers akan lebih bermakna jika disertai tanggung jawab. Dengan kata lain, pers tidak sebebas-bebasnya, tetapi kebebasan itu harus bisa dipertanggungjawabkan, yang lebih dikenal dengan istilah kebebasan yang bertanggung jawab. Media harus berhati-hati untuk menyiarkan dan menyebarkan informasi. Media tidak bisa seenaknya memberikan informasi atau mengarang cerita agar medianya laris. Jurnalis adalah profesi yang dituntut bertanggung jawab terhadap apa yang dikemukakannya. Jika pemberitaannya memiliki konsekuesi merugukan masyarakat, maka pihak media harus bertanggung jawab. Jika sudah merugikan secara perdata/pidana, maka media harus siap jika diprotes dipengadilan. (Ardianto,dkk, 2007: 202-204)

Jadi, untuk mengatur para jurnalis untuk bertanggung jawab maka pemerintah melakukan kontrol kebebasan melalui UU. Regulasi dilakukan agar para jurnalis bertanggung jawab terhadap apa yang ia beritakan dan hak masyarakat sebagai sumber ataupun objek penerima berita dilindungi.

Cinema Policy in Indonesia

Karena adanya globalisasi, di mana hubungan dengan Negara-negara barat khususnya Amerika mulai dibuka sejak jamannya Orba, berbagai film-film luar negeri seperti dari Amerika serta china mulai mendominasi pasar indonesia. Regulasi mulai dilakukan untuk melindungi budaya local indonesia. Di sini regulasi diberlakukan sebagai filter terhadap film asing. Contohnya film dari Amerika, sering kali terdapat budaya nasionalis amerika atau propaganda dari pemerintah amerika, yang harus diawasi atau disensor untuk melindungi nasionalis bangsa. Pada maa orba, regulasi dari pemerintah bersifat memaksa. Media, secara keseluruhan, berusaha dikuasai pemerintah untuk kepentingan pemerintah. Film Indonesia berperan sebagai media propaganda pemerintah. Film-film indonesia, dalam pasarnya, lebih bersifat mengejar keuntungan ekonomi. Sementara content atau isi dari film kurang diperhatikan, misalnya dampak terhadap degradasi budaya indonesia. Oleh karena itu, regulasi perfilman diperlukan untk melindungi content-content dari film-film yang diproduksi dan beredar dalam masyarakat. Sebelum beredar, sebelumnya, film harus lulus dari badan  yang bertugas meyensor film-LSF. Sensor film dilakukan melindungi masyarakat dari bahaya film yang tidak sesuai dengan politik dan norma masyarakat indonesia. (Moran, 1996:172-184)



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: