Luciatriedyana’s Weblog











{April 8, 2009}   MEDIA DAPAT MENGHANCURKAN NILAI BUDAYA DAN NILAI MORAL

Keith merujuk istilah ‘media’ untuk perangkat komunikasi dalam hubungan sosial dan budaya yang tidak tergantung pada interaksi tatap muka sang individu. Berbagai media ini didasarkan pada teknologi elektronik dan cetak. Media berimplikasi terhadap hancurnya nilai budaya dan nilai moral suatu masyarakat. Kata nilai mempunyai 2 makna. Pertama, nilai yang merajuk pada produk budaya(cultural goods) seperti buku, percetakan, film, dan program TV yang digunakan untuk membuat produk tersebut supaya menjadi lebih bernilai, diminati atau tidak. Maka, di sini nilai adalah tentang makna yang dihubungkan atau diberikan kepada objek dan aktivitas, makna apakah produk itu berbudaya atau tidak. Kedua, nilai merujuk pada prinsip-prinsip moral, tujuan dan standar yang dianut oleh idividu, kelas sosial, dan masyarakat. Apakah objek atau aktivitas sesuai dengan atau mendukung standar moral individu atau kelompok yang bersangkutan.

Cultural studies mengklaim bahwa studi tentang media adalah miliknya. Bidang ini sangat tertarik untuk mengungkap atau mengeksplorasi dimensi politis dari media dan teks-teksnya. Keith menggunakan pendekatan sosiologi dalam berbicara mengenai persoalan dan dampak media terhadap nilai-nilai moral dan budaya, berkaitan apa yang dapat dilakukan media terhadap orang-orang yang menonton dan membacanya. Media telah mengubah massa audien menjadi sekumpulan individu yang terisolasi dan dengan demikian media memainkan peranannya dalam menanggalkan ikatan moral dan ikatan solidaritas sosial yang menghubungkan kiata bersama. Media telah menciptakan audien yang pasif yang bagaimana pun telah terjebak di dalam dunia konsumsi barang-barang dan kesenangan yang dirasionalisasikan. Individu cenderung berpaling pada TV dan radio karena media tersebut menawarkan pelarian dari kesepian dan kebosanan. Media tersebut menawarkan semacan pertemanan.

Setiap orang menonton TV tiap harinya. Masyarakat, bisa menjadi subyek, pada kondisi kepanikan moral. Hal tersebut muncul ketika kondisi, peristiwa,orang atau sekelompok orang menjadi ancaman bagi nilai-nilai dan kepentingan masyarakat, karakteristiknya ditampilkan dalam bentuk yang menyesuaikan perkembangan zaman dan distereotipekan oleh media massa. Media melakukan penyeragaman budaya. Contohnya saja hampir semua media elektronik di Indonesia pada saat bersamaan menyiarkan ‘adzan magrib’ padahal tidak semua rakyat Indonesia beragama muslim dan tidak semua adzan magrib waktunya bersamaan Melalui medialah kelompok atau aktivitas tertentu bisa di identifikasikan sebagai ancaman terhadap segala sesuatu yang kita yakini sebagai sacral. Mengingat sifat media adalah provokatif.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: