Luciatriedyana’s Weblog











{April 8, 2009}   ELABORATION LIKELIHOOD MODEL

ELABORATION LIKELIHOOD MODEL

CONTOH KASUS

Ada seorang wanita bernama Rita. Dia mempunyai dua orang anak. laki-laki dan perempuan. Anak perempuanya meninggal karena kecelakaan mobil. kecelakaan terjadi akibat pengemudinya, pacar dari anaknya Rita yang masih berumur 18 tahun, mabuk karena minuman alcohol sehabis suatu pesta. sedangkan anak laki-laki Rita juga mengalami cedera kaki yang parah dan permanent akibat ditabrak oleh gadis SMU. setelah diselidiki, gadis SMU itu ternyata ketika mengemudikan mobilnya sambil minum alcohol.

Berawal dari kejadian yang menimpa anak-anaknya, Rita kembali ke bangku kuliah. Dia belajar untuk menjadi seorang advocate yang mampu mempersuasif audiencenya. Rita actif di dalam suatu organisasi yang menentang pengemudi yang mabuk atau minum alcohol. Dia berusaha meyakinkan orang-orang untuk melarang pengemudi di bawah 21 tahun untuk minum alcohol. dia menambahkan bagi yang melanggar akan kehilangan SIMnya. Selanjutnya disebut “zero tolerance law”.

Dia berusaha mengembangkan strategi persuasive yang memungkinkan akan efektif dan berharap bahwa ia akan berhasil dengan mempresentasikan argument-argument yang yang masuk akal dan kuat sehingga mampu memaksa orang untuk setuju, mengikuti, dan merubah sikapnya. Terlebih Rita membuat implikasi berupa konsekuensi yang harus ditanggung jika argumentnya dilanggar. Namun, Tidak hanya argument dan logika berpikir yang dituntutnya, juga penampilan atau  performence dirinya sewaktu berpresentasi dan mempersuasif audiencenya.

CENTRAL ROUTE AND PERIPHERAL ROUTE

Richard Petty dan John Cacioppo, mencoba menganalisis kasus dari Rita, mengungkapkan ada 2 cara/jalan untuk membuat orang membuat keputusan untuk merubah sikapnya. yang pertama adalah rute pusat(central route). Rute ini merujuk pada detil pesan yang diperuaasifkan. argument pesan harus relevan, masuk akal, dan kuat. rute ini dipakai ketika orang memproses infirmasi yang baru masuk menggunakan rasio mereka, menyelidiki ide/info itu, mempertimbangkan keuntungannya, juga implikasi-implikasinya(terutama jika menolaknya). Sehingga keputusan yang kita ambil secara sadar dan penuh pertimbangan dapat merubah sikap kita. Dalam proses ini dibutuhkan motivasi kuat untuk mau memproses pesan tersebut dan kemampuan untuk evaluasi secara kritis. Bisa dibilang ini merupakan proses berfikir level tinggi. Di sinilah alas an mengapa argument-argument dari Rita harus kuat, masuk akal, dapat diterima dan mapu mempersuasif pendengarnya.

Sedangkan rute satunya, yaitu peripheral route (rute sekeliling??), rute ini merujuk pada apakah pesan iu diterima atau ditolak tanpa memperhatikan secara seksama sikap-sikap yang diminta/diharapkan untuk dirubah. jadi, seumpama kita menerima pun, sikap yang diubah hanya bersifat temporer. Rute ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Karena pada dasarnya, proses ini lebih berdasar pada kharakteristik pesan itu sendiri. Seberapa besar daya pikat pesan tersebut, apakah orang suka pada pesan itu??Apakah orang yang memberi pesan dapat dipercaya? kredibilitas persuader juga menjadi pertimbangan, reaksi lingkungan sekitar (apa tanggapan dari orang-orang yang dipersuasif), mood orang-orang yang dipersuasif, dll

Dalam mengambil keputusan ketika berfikir, Robert Cialdini memaparkan ada beberapa variasi isyarat yang mempengaruhi / diikuti orang.

These cues allow us to fly the peripheral route on automatic pilot:

“Reciprocation—– you owe me”

“Consistency—– we’ve always done it that way” (orang cenderung mencari kekonsistensian dalam hidupnya, jika ia terbiasa melakukan suatu hal, ia akan cenderung mempertahankan kebiasaannya itu)

“Social proof—– everybody’s doing it”

“Liking—– loves me, love my ideas” (orang biasanya ketika sudah menyukai  sifat atau bagian tertentu dari orang lain maka ia cenderung menyukai orang itu secara keseluruhan)

“Authority—— just because I say so”

“Scarcity—— quick, before they’re all gone”

(Griffin :2003)

Diaplikasikan pada kasus Rita, kedua rute ini merujuk pada kesamaan pemahaman antar persuader-yang dipersuade. kedua rute ini lebih pada proses berfikir dalam mengevaluasi pesan/argument persuader. Rute yang mana yang akan diambil ditentukan oleh tingkat pengembangan seseorang. Dalam menentukan rute yang diplih diantara keduanya dipengaruhi oleh faktor motivasional dan faktor kemampuan. Faktor motivasional meliputi keterkaitan orang itu sendiri terhadap isi pesan (ego- involved), tanggung-jawab, dan keinginan mereka untuk berfikir. Faktor kemampuan meliputi ketersediaan sumber daya teori atau pengetahuan yang relevan yang diperlukan untuk meneliti argumentasi itu secara hati-hati. Biasanya orang cenderung memilih rute tengah dari keduanya, proses rute sekeliling dan pusat akan memandu pengolahan informasi. misalnya, dalam kasus Rita, siswa yang dipersuasif oleh Rita akan mempertimbangkan masak-masak keuntungan dan seberapa penting ”zero tolerance law” bagi dirinya(central route), namun sikap teman-temannya yang meremehkannya atau menertawakan presentasi Rita juga akan mempengaruhinya (peripheral route). Gampangnya, kita bisa sebut siswa tersebut setengah-setengah dalam menaggapi ipi pesan Rita. Di satu sisi ia mempertimbangkan betul-betul, di sisi lain lingkungannya membuatnya untuk tidak terlalu respect atau bersungguh-sungguh dalam menanggapinya(reaksi teman-temannya yang meremehkan atau menganggap pesan itu dianggap tidak begitu penting). Di sini pribadi dan penampilan dari Rita pun ikut menjadi faktor lingkungan. misalnya umur Rita yang memang cukup tua jika dibandingkan dari siswa-siswa yang diajarkan, kemudian aksen bicara Rita juga bisa mempengaruhi apakah Rita patut didengarkan/diperhatkan atau tidak.

MOTIVATION FOR ELABORATION

Dalam social judgement theory disebutkan bahwa kita termotivasi untuk mengolah pesan yang kita terima hanya jika pesan itu mempunyai ego-involved yang tinggi. Sebaliknya, jika isi pesan tidak terlalu relevan atau tidak cukup credible (keterlibatan rendah) orang cenderung tidak memprosesnya lebih jauh. Kembali lagi pada kasus Rita, di sini Rita menggunakan SIM sebagai senjata kuat argumentnya (menyangkut isi pesan yang kuat), karena tanpa SIM orang tidak akan diperbolehkan mengemudi, sehinnga keterlibatan orang/listener/pendengarnya cukup besar terhadap konsekuensi SIM itu sendiri. SIM di sini menjadi alasan kuat orang untuk mempertimbangkan pean yang disampaikan Rita. Pertimbangan jika menolak akan kehilangan SIM dapat membuat orang merubah sikap mereka dengan tidak mabuk atau minum alchol ketika mengemudi.

….they will be much more influenced by what a messages says than by the characteristics of the person who said it. But when the topic is no longer relevant, it gets sidetracked to the periphery of the mind, where credibility cues take on greater importance. Without the motivation of personal relevance, there probably, will be little elaboration.” (Griffin: 2003)

Namun dalam mengolah issue yang relevan tidak hanya dibutuhkan kemampuan berfikir (intelligence) namun juga menuntut kosentrasi. common sense yang sudah diketahui/sering/berulangkali dibicarakan banyak orang , perhatian yang diberikan biasanya sangat sedikit. Artinya, kosentrasi yang diberikan juga sedikit.

“..Rita can use repetition to ensure that her main point comes across, but too much commotions will short-circuit a reasoned consideration of the messages,……in that case students will use peripheral route and judge the messages by cues that indicate whether Rita is a competent and trustworthy person”

Contohnya orang akan bilang : “Saya sudah tahu itu, semua orang melakukannya” atau “itu sudah seharusnya” tanpa perhatian yang lebih serius. ——merujuk pada variasi cues yang telah dijabarkan sebelumnya yang dikutip dari Robert C.

Namun, ingatkah kita ada social judgement theory, seseorang dalam kondisi zona penolakan(misalnya, terjadi pada seorang yang memang suka mabuk atau minum alcohol) tentu tidak akan begitu mudahnya menerima pesan Rita. seharusnya Rita tidak mengasumsikan bahwa semua orang akan selalu menerima argumentnya. Selain tergantung pada kualitas/ seberapa hebatnya argument yang dkemukakan juga bergantung pada objectivitas audiencenya, apakah mereka mau menolak atau menerimanya.. Namun, tidak disangkal bahwa Rita harus memperlihatkan sikap ramahnya, bersahabat, penampilan yang menarik dan berkesan serta, yang paling penting, argument kuat yang diperlukan untuk merubah sikap dan pikiran audiencenya.

OUR CRITIQUE

Elaboration Likelihood seolah-olah mengasumsikan bahwa argumentasi-argumentasi yang kuat akan selalu berhasil atau paling tidaka kan masuk ke dalam rute peripheral dimana jika rute central menyangkut perubahan kebiasaan, rute peripheral lebih kepada perubahan sikap saja/untuk sementara waktu. Apakah selalu seperti itu? Begitu mudahkah sikap seseorang diubah??? bagaimana dengan tipe-tipe orang yang dogmatis? Buktinya, seperti kita tahu, Paris Hilton , sudah berulang kali keluar-masuk penjara oleh kasus serupa, yaitu mabuk saat mengemudi, apakah sosialisasi dan persuasive larangan mabuk saat mengemudi yang gencar dikampanyekan di Amerika berhasil???

Kemudian, bukankah jika kondisi lingkungan termasuk aspek dari si persuader menjadi perhatian atau ikut mempengaruhi, bukankah hal itu termasuk tidak fleksibel, tidak praktis, dan kurang effekif? Apalagi mood seseorang itu cenderung berubah-ubah.

Sumber :

Griffin, Emory A. A First Look at Communication Theory. 2003. McGraw-Hill : USA.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: