Luciatriedyana’s Weblog











{April 8, 2009}   analisis positivism dan marxist terhadap majalah asianstars

asianstars

CHARACTER:

Majalah ini khusus menampilkan artis-artis mandarin dan korea terutama yang sedang ‘in’ atau yang sedang ‘naik daun’. Terbit setiap bulan. Isinya seputar gossip-gosip dari artis yang bersangkutan. Artikel-artikelnya pun difokuskan seputar kehidupan artis-artis asia tersebut. Gaya hidunya bagaimana, apa yang sedang dikerjakan, lagu atau film baru apa yang dirilis dan yang baru popular/digemari, seperti apa style rambut dan gaya bajunya, yang jelas majalah ini secara garis besar menampilkan karakter-karakter artis asia (mandarin dan korea). Dari sekitar 120 halamnan, 103 halaman membahas masalah-masalah yang tersebut di atas. Sisanya membahas fashion (model dan baju yang ditampilkan bergaya mandarin), zodiac, shio, dan sedikit artikel tentang kecantikan kulit yang lebih ditujukan bagi perempuan. Bisa dibilang majalah ini fullcolor, fullartis (artisnya yang disorot jumlahnya lebih dari 20), and fullpicture. Cover memikat dengan gambar atau foto artis yang akan dibahas di dalam halaman rubik majalah. Foto dan gambar yang ditampilkan dalam setiap halaman tidak segan-segan banyaknya. Iklan yang ada hanya sedikit, malahan dalan edisi februari-maret kurang dari 5 halaman. Tidak segan-segan pula asiastars juga memberikan bonus berupa DVD lagu-lagu dari artis korea ataupun mandarin yang akan diberikan di setiap edisinya mulai edisi bulan februari ini. Bisa dibilang sesuai dengan harganya, yaitu sekitar Rp 35.000,00. secara sepintas majalah terasa exclusive.

Istimewanya majalah ini, artis mandarin dan koreanya tidak dicampur tetapi dipisah. Bagian depan seputar artis mandarin-asianstars, sedangkan dari tengah halaman kebelakang seputar Korean stars. Masing-msing kurang lebih ada sekitar 10 rubrik. Rubrik galeri, asal tahu, profil, wacana, dan jejak bintang yang berisi seputar kehidupan para artis yang disorot(termasuk gossip dan wawancara mendalam tentang pribadi artis yang bersangkutan). Kemudian rubrik serial tentang film serial/drama yang sedang dirilis atau yang sedang popular, yang dilengkapi juga oleh resensinya di rubrik selanjutnya yaitu rubrik resensi serial. Ada pula rubrik MV yang membahas artis yang main di album video. Untuk album-baru yang dirilis disediakan rubrik khusus tersendiri dan disertai resensinya. Terakhir ada rubrik TOPCHART yang menampilkan peringkat lagu-lagu apa saja yang sedang ‘in’. bisa disimpulkan ini majalah khusus penggemar artis mandarin-korea terlebih bagi penggemar perempuan. Kami merasa majalah ini lebih ditujukan bagi perempuan dilihat dari model bajunya, aksesoris-aksesoris yang ditawarkan, tips-tips yang ada, semuanya ditujukan untuk perempuan. Jika dilihat-lihat, ternyata porsi artis perempuan dan artis pria lebih banyak porsi artis prianya mengingat kaum hawa lebih mengidolakan kaum adam. Dibuktikan surat-surat yang masuk untuk redaksi semuanya berasal dari pembaca perempuan. Sasarannya lebih cenderung ke arah remaja dan anak muda (perempuan).

PANDANGAN POSITIVISME

Dilihat dari penyebaran penduduk china yang bisa dibilang ‘memukau’ di seluruh dunia, terutama di Indonesia, majalah ini tentunya menjadi sesuatu yang ‘khas’ bagi masyarakat china di Indonesia agar bisa memperoleh informasi mengenai seputar artis –artis yang sebangsa. Ciri ‘specialized’ ini bisa menjadi daya tarik dan keuntungan tersendiri.

Secara ekonomi majalah ini tentunya sangat diharapkan kelangsungannya dan disyukuri karena tidak bisa dipungkiri majalah ini sudah menjadi ladang usaha dan sumber penghidupan bagi banyak orang di dalamnya. Tidak hanya sebagai sumber pekerjaan bagi orang-orang yang berkecimpung lansung di dalamnya, tetapi juga bagi distributor, dan usaha-usaha lain yang terkait, misalnya pabrik penyuplai kertas.

Secara fungsional majalah ini lebih berfungsi sebagai media informasi tentang berbagai berita atau peristiwa seputar artis luar negeri (kore dan mandarin). Lebih detail ditinjau ke arah fungsi komunikasi massa seperti yang dikemukakan beberapa ahli, yaitu surveillance, interpretation, linkage, transmission of values, dan entertainment (Elvinaro, dkk : 2007).

Fungsi pengawasan instrumental misalnya pada berita-berita tentang film baru yang dirilis pada rubric SERIAL. Ada pula informasi mengenai siapa artis-artis pemerannya dan juga synopsis ceritanya. Ada info tentang lagu-lagu yang sedang popular dan digemari lewat rubric TOP CHART. Beberapa halaman terakhir pun membahas sedikit tentang fashion mandarin-korea yang sedang trend lewat busana yang dikenakan model-modelnya. Ada pula sedikit tips tentang kecantikan kulit.

Secara interpretation, majalah ini lebih mengulas kehidupan artis-artis mandarin-korea. Asianstars berusaha memuat artikel-artikel seputar gossip-gossip yang menerpa artis (tentang apa yang sedang terjadi, gaya hidupnya, apa atau siapa yang sedang disulai, dll) yang dibahas di setiap rubriknya dan berusaha mengorek privasi artis tersebut untuk diberitakan atau dipublikasikan kepada khalayak. Untuk para fans atau penggemar artis asia, tentu mereka merasa ingin dan berhak tahu berita seputar artis favoritnya. Jadi, kami menyimpulkan ini adalah majalah khusus fans_nya artis asia, dan ternyata, setahu kami, hanya penggemar artis asia saja yang berminat dan membelinya, bahkan sebagian orang tidak tahu majalah ini ada.

Fungsi linkage jelas terlihat. Lewat majalah ini, Indonesia-korea-mandarin jelas terhubung. Fans tahu apa yang sedang terjadi atau ada berita apa tentang artis fevoritnya nun jauh di Korea-Taiwan. Tentu tanpa pergi ke Korea-Taiwan secara langsung atau bertanya langsung pada artis yang bersangkutan. Di sini media sebagai penghubung antara fans di Indonesia dengan artis asia. Ada juga penghubng antara penjual dan pembeli lewat iklan yang ditawarkan.

Fungsi penyebaran nilai-nilai juga terlihat jelas. Pada majalah ini jika dilihat secara teliti, tampak adanya sosialisasi mengenai budaya mandarin yang direfleksikan oleh gambaran pandangan, cara, gaya hidup, para artis mandarin. Kita menjadi tahu seperti apa gaya hidup, carahidup, pandangan-pandangan artis-artis di Korea-Taiwan. Pembaca khususnya penggemar bisa jadi menirunya. Menjadi positive bilai nilai yang ditiru itu baik, misalnya dijabarkannya tipe orang yang disukai artis dapat membuat pembacaya merubah sifat-sifatnya sesuai yang disebutkan artis tersebut, tentunya ke arah yang lebih baik, karena pada dasarnya tipe-tipe orang yang disukai yang diungkapkan artis-artis tersebut sangat baik seperti pintar, berkharekter dan berkharisma, elegan, baik, ramah, ceria, dll.

“media mewakili kita dengan model peran yang kita amati (ditonton, didengar, dan dibaca) dan harapan untuk menirunya.” (Elvinaro,dkk, hlm.16 : 2007)

“one common objective was to identify those texts that had greatest cultural value and to interpret them so that their value would appreciated and understood by others……by identifying and explaining these important texts to make them more accessible to more people” (Baran and Davis : 2003)

Fungsi hiburan majalah ini bisa dibilang terletak pada artikel-artikel beritanya dan foto-foto artis di dalamnya.

“fungsi dari media massa sebagai fungsi menghibur tiada lain tujuannya adalah untuk mengurangi kepenatan dan ketegangan pikiran khalayak, karena dengan membaca berita-berita ringan……membuat pikiran khalayak segar kembali” (Elvinaro,dkk, hlm. 17: 2007)

Media bisa menjadi penghilang perasaan tidak nyaman, misalnya kesepian, marah, kesal, kecewa, dan sebagainya sebagai pemuasan kebutuhan psikologis.

PANDANGAN MARXIST

Majalah pada umumnya, termasuk majalah ini, sangat tinggi daya persuasive dan pengaruhnya. Kita harus mengevaluasi secara kritis pesan-psan dalam majalah ini seputar pengaruhnya terhadap masyarakat kita beserta budaya kita. Seperti diungkapkan John R. Bittner, bahwa reaksi kita terhadap setiap pesan di media tdaklah sama. Setiap pesan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi masyarakat beserta budayanya dan dapat berdampak negative. Karena majalah sebagai media massa dapat membentuk opini public dan berfungsi sebagai socialization yang dapat diadaptasi. Mengingat budaya semua tmpat khususnya Indonesia-mandarin tidak sama, tentu ada budaya yang bertentangan bukan? Bagus kalau positive, kalau negative??? Setidaknya ada 3 sosialisasi budaya. Pertama, budaya mandarin itu sendiri, kedua budaya artis mandarin, dan ketiga adalah budaya gila artis mandarin. Budaya mandarin tampak dari cara berpakaian atau fashion di sana yang dipaparkan salah satu rubric majalah ini. Tentu saja dengan UU APP yang baru di Indonesia cara berpakaian seperti itu bakal ditolak yang di sana diaggap wajar (di sana belum ada UU APP). Contohnya lagi, pandangan kolot di mandarin mengenai aturan pria lah yang harus mengejar wanita. Di mana wanita yang agresive masih dinilai buruk dan tabu (diungkapkan oleh sebagian besar artis-artis yang diwawancarai). Sedangkan di Indonesia sudah tidak jamannya lagi wanita harus menunggu pria bergerak duluan. Kalau prianya tidak bergerak juga?? Bisa tidak pacaran toh kita??? Ini bisa juga menjadi masalah gender. Di sini mungkin kedudukan wanita masih lebih baik daripada di sana. Feminisme gencar diserkan di sini. Gaya artis-artis mandarin yang hampir semuanya bisa dibilang mirip jelas terlihat dari cara berpakaian yang mencolok, yang kalau di Indonesia kostum-kostumnya dinilai aneh “freak”. Terlihat juga pose-pose foto artis-artisnya yang terkesan glamour, elegan, yang jelas di Indonesia mereka dinilai ‘narsis’.Gaya hidup yang terlihat glamour, elegan, boros,exclusive dapat membuat minder kita yang melihatnya. Parahnya, jika ingin meniru tetapi tidak bisa karena berbagai keterbatasan dan kondisi Indonesia yang berbeda. Bisa-bisa kita depresi sendiri. Majalah ini juga kami nilai sebagai penyosialisasian budaya gila artis. Bagaimana kita diajak dan dibuat agar ikut-ikutan mengidolakan mereka. Terlebih dengancara yang ekstrim atau berlebihan dan ingin tahu semua hal tentang mereka, parahnya jika melewati batas kewajaran. Kita dibuat tergila-gila pada mereka. Bisa-bisa kita tidak dapat mengontrol emosi kita sendiri dan begitu mendewakan mereka. Kenyataanya, hampir semua fans asianstars yang membaca majalah ini seperti itu. Mereka sibuk mengumpulakan poster, foto, gambar, album lagu artis secara berlebihan. Bisa jadi mereka kehilangan rasionalitas mereka dan rela melakukan apa saja untuk sesuatu hal berkaitan dengan artis idola mereka.

“culture is reflection of media messages, and messages consist symbols”

“media messages influences that can change a culture, even dominate it…..consumers can caged and blinded else their links with the past, like an exploding star”

“ actors and actresses as spokespersons for commercial products on a global scale” (Bittner : 1996)

Secara pribadi, menurut kami, artikel-artikel seputar artis asia ini (seputar gossip, gaya hidunya, dll) sangat tidak penting. Kami tidak butuh informasi tentang kehidupan pribadi mereka. Apa atau siapa yang sedang mereka sukai, tipe cewek mereka, dll, sangat tidak berhubungan dengan kami. Yah, bisa dibilang nilai beritanya kecil. Itu menurut kami, tetapi dilihat secara keseluruhan, bagi fans, informasi seperti itu sangat diminati. Mereka merasa ingin dan berhak untuk tahu. Mengingat para artis bukanlah apa-apa tanpa fans_nya. Atas dasar mereka bekerja untuk fans, privasi artis harus dipublikasikan. Oleh karena itu, tulisan-tulisan yang diragukan nilai beritanya itu bisa dibilang artikel berita. Namun berlaku hanya untuk fans_nya saja sementara bagi sebagian besar dinilai tidak penting Bukankah kita tidak senang jika privasi kita dicampuri, lalu karena orang itu adalah artis maka orang itu senang dan boleh privasinya diusik? Mungkin tidak salah kalau kita tahu artis-artis korea-mandarin, karena itu adalah bukti kita cukup komunikatif-up to date, tetapi apakah perlu sampai kita tahu secara mendetail tantang privasi orang??apakah penting bagi kita?? I guess not. Toh, info tentang gaya hidup, makanan atau warna favorite artis tersebut juga tidak berguna atau bermanfaat bagi kita. Lebih jelas lagi, mungkin gaya hidup artis mandarin berbeda dan tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. Menjadi gawat jika ditiru. Misalnya salah satu artikel mengulas kehidupan salah satu artis yang tinggal bersama pacarnya tanpa status paernikahan yang oleh sebagian besar budaya di Indonesia bertentangan atau tidak wajar.

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala, dan Siti Karlinah. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa.

Bittner, John R. 1996. Mass Communication.

Baran, Stanley J. 2003. Mass Communication Theory. Foundation, Ferment, and Future. Canada: wadsworth.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: