Luciatriedyana’s Weblog











{October 31, 2008}   penderitaan kaum kristen irak

*Lets PRAY for them.

BIARAWATI YANG MEMBANTU KAUM BAWAH TANAH KRISTEN IRAK*

Kristen Assyria IRAK – kaum yang paling menderita dalam perang Iraq ini.
Gereja-gereja mereka diBOM, perempuan-perempuan dan anak-anak
diperkosa, disalib, dicincang, ditembak mati dan mayat-mayat mereka d
ilempar ke tempat penimbunan sampah, bahkan uskup besar mereka
baru-baru ini diculik dan ditembak mati. Bisa dilihat semua korban
Pemboman Gereja di Irak di: http://www.christiansofira q.com/bombed. html

“Begitu Saddam jatuh, muslim-muslim fanatik mulai mengirimkan kami
surat-surat ancaman agar kami MASUK ISLAM atau meninggalkan negeri ini
atau ‘bersiap-siaplah untuk mati.’ Suatu hari, orang-orang bermasker
menyerang rumah kami, mengikat suami saya dan SATU PER SATU MEREKA
MEMPERKOSA SAYA DIDEPAN SUAMI SAYA. Setelah insiden itu kami
memutuskan untuk kabur dari tanah kami yang sudah dihuni kaum kami
huni selama 2000 tahun ini,” demikian kesaksian salah seorang korban.

Perang Iraq membawa penderitaan yang tidak dapat dibayangkan, berjuta
cerita berbeda tentang kesedihan, kekerasan, dan pengasingan.
Namun dalam perang ini, tindakan keji yang jarang diucapkan adalah
tindak pidana PEMERKOSAAN. Dan bagi kaum KRISTEN IRAK, k
husunya, ini sebuah kisah yang saking seringnya terulang sampai tidak l
agi dapat diacuhkan. Tetapi, tragisnya untuk banyak wanita yang
mengungsi, penderitaan mereka tidak berakhir di perbatasan.

Sekitar 13.000 pengungsi Kristen Irak kini berada di Turki, termasuk
7.000 orang di Istanbul, di kawasan-kawasan yang paling miskin,
di gedung-gedung atau lantai-lantai bawah tanah yang tidak layak huni,
tidak memiliki saluran air atau tingkat higiene memadai.

Kamar-kamar bawah tanah ini basah, bau karena mereka berada dibawah
saluran air. Mereka sendiri tidak memiliki toilet. Lebih dari 80 orang per
kamar(bawah tanah) hidup, masak dan makan, menggali lubang-lubang
untuk buang air. Memang baunya busuk, tetapi mereka tidak memiliki
pilihan; pulang kembali ke Iraq sama saja dengan bunuh diri.

Akomodasi mereka dikuasai oleh gang-gang kriminal, yang menuntut uang
sewa US$50/¡ò24 per orang (termasuk anak-anak) per bulan. Mereka yang
tidak dapat melunasi, akan dilempar ke jalanan. Karena mereka pengungsi
ilegal, mereka tidak dapat mencari pekerjaan ataupun berjalan keluar
karena karena mereka akan ditangkap polisi atau – lebih parah lagi –
dikirim kembali ke perbatasan (Irak).

Beberapa wanita menemukan pekerjaan sebagai pembantu dimana mereka
dibayar dengan upah yang minim termsuk juga gangguan, penganiayaan,
dan bahkan pelecehan. Jika mereka melapor KEPADA polisi, mereka akan
dilempar ke penjara. Mati kelaparan atau menderita penyakit merupakan
hal yang lumrah.

NAMUN Sister Hatune — yang kini mendapat julukan Ibu TERESA dari
IRAQ — merupakan salah seorang malaikan penyelamat. Yayasan Sister
Hatune yang bermarkas di India, dengan cabang-cabang di Eropa dan AS,
didirikan tahun 1992 untuk membantu mereka yang tuna wisma, b
erpenyakitan, korban2 tragedi alam dan pengungsi2 yang ditekan k
arena agama mereka. Lahir di Turki Tenggara, dari sisa2 penduduk
Assyria.
<www.sisterhatunefo undation. com/iraq. htm>

Ia tadinya bertugas di India di tahun 90an, namun karena perang Irak
dan exodus Kristen, ia kini mengalihkan perhatiannya ke saudara-saudara
Kristennya tersebut. Sekitar 3.5 juta pengungsi Iraq terdapat di
negara-negara tetangga, termasuk 2.2 juta di Syria dan 750.000 di
Yordania. Namun yang paling menyedihkan adalah nasih sekitar 600.000
Kristen Irak.

Kunjungan Suster Hatune, dimana ia memberikan Uang dan Pakaian,
disebut-sebut sebagai bantuan perpanjangan dari Tuhan (Yesus tentunya,
bukan yang lainRed)

“Memang menyedihkan melihat ibu-ibu kurus ini mencoba keras menyusui
anak-anak mereka,” katanya. “Kelaparan memang hal yang sangat berat
bagi manusia dan banyak ibu-ibu terpaksa menjual diri mereka bagi
sandang dan pangan. Saya ketemu banyak keluarga yang dengan rela m
enjual diri mereka demi sepotong roti.

Suster Hatune, seorang yang lembut, dan murah senyum dengan aksen
antara timur tengah dan eropa tengah, telah dapat membuat para
gadis-gadis untuk berbicara bebas mengenai penderitaan mereka.
Beberapa cerita, melibatkan Gadis dibawah umur, sangat-sangat
mengerikan untuk diberitakan. Banyak Gadis-gadis kecil dan Wanita
dewasa mempunyai banyak luka memar di sekujur tubuh mereka.
Untuk keamanan, nama mereka tidak dicantumkan.

Helena adalah sebuah contoh khas. Sebelum perang, ibu berusia 47 tahun
ini, anggota gereja Assyria, tinggal di Baghdad dengan suaminya yang
bekerja SEBAGAI tukang listrik, ibu mertuanya dan kedua puterinya
berusia 18 dan 7 tahun.

Setelah jatuhnya Bagdad bulan April 2003, militan-militan Islam memulai
kampanye teror mereka. Pertama, mereka mengirim surat ancaman kepada
keluarga-keluarga Kristen, meminta mereka memeluk Islam atau
meninggalkan negara (Irak). Surat-surat itu tidak digubris oleh keluarga
tersebut (Keluarga Helena). Tapi suatu hari, didepan rumahnya suaminya
dihujani peluru dari senapan mesin saat pulang kerja. Dua minggu
setelah pembunuhan suaminya, Helena menerima surat lainnya dan
mengontak seorang penyelundup. Mereka terpaksa melarikan diri ke
Istanbul, dimana mereka tinggal di sebuah kamar bawah tanah dengan
40 pengungsi Kristen lainnya. Mereka tidak membawa satu barangpun
yang mengingatkan mereka pada hidup mereka dulu yang makmur itu.

Beberapa minggu setelah ketibaan mereka di Istanbul, seorang mucikari
setempat menawarkan mereka uang SEBAGAI GANTI PUTERI TERTUA
MEREKA.

“4 hari dalam keadaan sangat lapar memaksa keluarga itu MENJUAL
PUTERI MEREKA untuk satu malam KEPADA SEORANG MUSLIM KAYA.”
kata Suster Helena.

Suster Hatune dengan gadis Kristen Irak 9 tahun yang diperkosa secara
brutal

Keesokan harinya, sang gadis 18 tahun itu kembali ke rumah mereka
dengan bekas-bekas luka pada tubuh dan pikirannya. “Pelaku sadist itu
menyundut tubuhnya dengan rokok.” (Kata Suster Hatune) Ia mencoba
bunuh diri. Keluarganya tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis
dan berdoa.

Setiap keluarga di Camp pengungsian mempunyai cerita-cerita tersendiri.
Cerita Ibu Salam juga tidak kalah tragis. Wanita 27 tahun itu tiba di
Turki bulan Agustus lalu dari Mosul. Ibu dua anak – usia 4 tahun & 18
bulan – seperti umumnya keluarga Kristen lain, hidup nyaman dengan
suami yang bekerja pada perusahaan minyak. “Kami termasuk kaya,
punya rumah dan mobil dan hidup dengan damai dibawah periode Saddam
Hussein,” katanya. Ia DIPERKOSA RAMAI-RAMAI didepan suaminya
dan hanya berhasil kabur dengan bantuan gang penyelundup,
sambil menyamar dalam busana Muslim.

Kristen Irak di Istanbul; tadinya kaya, kini melarat, tersiksa,
dilecehkan, hidup sebagai pengungsi dan tergantung dari sumbangan

“Kami membawa seluruh barang-barang berharga dan Uang kami saat kami
meninggalkan rumah. di jalan, kami bertanya pada penyelundup berapa
banyak kami harus membayar untuk pergi ke Turki.” Ia berkata,
“Apa saja yang kau punya, itu adalah biayanya/ongkosnya” . Saat kami
sampai dekat perbatasan Turki, dia dan anggota gengnya menggeledah
tubuh kami dan harta kami dan mengambil seluruhnya. Ada juga keluarga
lain bersama kami, dan nasib yang sama menimpa mereka.

“Ketika kami dibiarkan begitu saja di Turki, seluruh harta kami yang
tersisa dikuras oleh penyelundup. Satus-satunya harta yang masih kami
punya adalah baju-baju pada tubuh kami. Bahkan cincin emas saya (yang
didapatkan dengan memohon-mohon) sudah saya jual untuk sepotong roti.”

Sebagai korban pemerkosaan, Ibu Salam sulit menerima keadaannya ini.
“Saya malu memandang orang lain. Mereka kenal saya, mereka juga tahu
bahwa saya diperkosa. Saya tidak dapat menceritakan perasaan saya
pada orang saya. Kadang saya merasa tidak lagi sanggup hidup.”

“Tetangga-tetangga Muslim kami pun berbalik memusuhi kami. Kami tidak
lagi punya teman ataupun bantuan. Kami takuntu kami akan dibunuh begitu
kami kembali. Kami hanya bisa berdoa agar Tuhan (Yesus tentunya,
bukan yang lain-Red) membebaskan kami dari neraka ini.”

Setelah pembunuhan Uskup Besar Paul Rahho, pemimpin gereja Chaldean
Catholic di Iraq utara, sejumlah Kristen Irak mulai bersembunyi dibawah
tanah, di catacombe seperti nenek moyang mereka di abad 1M.
Ini adalah sentimen, kata Ibu Salam.

“Kepercayaan saya kuat, karena nenek moyang kami adalah orang-orang
yang kuat kepercayaannnya dan penderitaan mereka jauh lebih parah dari
yang kami rasakan sekarang. Kami percaya bahwa penderitaan ini akan
menguatkan kehidupan spiritual kami. Suatu saat saya bertanya:
‘Mengapa Tuhan tidak menyelamatkan saya?’ Tetapi Tuhan (Yesus tentunya,
bukan yang lain-Red) mengirimkan bantuannya melalui orang-orang untuk
enolong kami, dan Aku percaya Ia akan menyelamatkan saya.
Kedatanganmu adalah perwujudannya” (Kata Ibu Salam kepada Suster
Hatune-Red)

Sister Hatune dengan pakaian-pakaian bekas untuk disumbangkan bagi
pengungsi Kristen Irak

Yayasan Suster Hatune memberikan gandum, tepung, gula, dan pakaian
melalui jalur darat, dibantu oleh Indian Chapter, YMCA, dan Jubilee
Campaign di Inggris. Pemerintah Syria juga membantu dengan Damaskus
pusat untuk menyediakan bahan-bahan. Yang penting dari semuanya,
adalah, Uang-Tanpa pekerjaan, dan banyaknya lelaki mereka yang m
eninggal, Para Wanita sering tidak terlindungi dan tercukupi.
Suster Hatune, dengan bantuan dari Yellow Christian di Eropa dan l
ainya, juga menyediakan uang untuk seorang wanita, Ibunya, dan 2 a
diknya untuk dapat hidup dan makan selama 6 bulan, Jadi saudara
mereka yang berumur 18 tahun tidak lagi perlu untuk menjual diri.

“Saat kuberikan uang, Ia berlutut dan berterimakasih untuk para
dermawan yang menyumbang, dan bukan untukku,” Kata Suster Hatune.

Suster Hatune, dengan bantuan sumbangan yayasannya, mampu
melunaskan uang sandera bagi seorang gadis 13 tahun yang diculik dan
diperkosa selama dua minggu sampai gang penculik itu membebaskannya
dengan uang ganti US$9.000/¡ò4,000. .

Keluarga lainnya yang mereka bantu terdiri dari anak umur 16 tahun dan
ayah tirinya yang lumpuh dan Ibunya yang sakit mental. Saudara
laki-lakinya yang berumur 22 tahun menghilang. Militan Islam menculik
gadis itu dan menyekapnya selama 4 bulan dimana ia disiksa. Bersama
tetangga Kristennya, yang diperintahkan untuk murtad atau mati,
akhirnya mereka kabur.

“Empat orang memperkosanya. Saat menceritakan kisahnya, Ia gemetar
dan gugup kemudian pingsan. Aku mencoba untuk menopangnya ditangan.
Tim kami membayar uang sewanya selama 6 bulan.”

Di hari terakhirnya di Istanbul, Suster Hatune dengan sebuah pick-up
tiba di penginapan para pengungsi dan menyalurkan pakaian dan uang.
Di hari yang sama grup bertemu 6 keluarga yang baru tiba di Turki dan
tidur di tanah tanpa selembar alaspun. Suster Hatune memberikan
memberi mereka kasur, pakaian, dan ¡ò80 setiap orang.

Ayah dari satu keluarga telah dibunuh sehingga muslim bisa mengambil
jabatannya di bidang perminyakan, dan Istrinya dipaksa menjual dirinya
untuk memenuhi kebutuhan. Suster Hatune memberikannya ¡ò800 untuk
memenuhi kebutuhan selama 6 bulan.

Bulan depan, Suster Hatune akan ke Yordania, dimana skala penderitaan
pengungsi Kristen disana JAUH LEBIH PARAH daripada di Turki.
Untuk itu Suster Hatune meminta kepada Umat Kristen diseluruh
dunia agar merogoh kantong mereka dalam-dalam untuk membantu mereka.
Seorang janda yang dipaksa menjual dirinya berkata kepadanya
(Suster Hatune): “Para dermawan yang membantu kami adalah
malaikat yang menyelamatkan kami dari neraka.”

Jika berniat untuk membantu, tolong kirimkan cek kepada “Assyrian Aid
Society”, dan kirimkan ke perkumpulan di 36 Crossway, London W13 0AX,
dengan pesan berisikan bahwa sumbangan untuk Suster Hatune.

(Oleh Ed West)

[Non-text portions of this message have been removed]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: